Mendapatkan kepercayaan dan mempertahankan kepercayaan adalah dua hal yang sulit dilakukan. Banyak godaan yang seringkali menghampiri untuk mengganggu. Tak sedikit ada orang yang mudah tergiur dan justru terjerumus mengikuti godaan tersebut. Sebagai manusia yang berakal kita dituntut untuk mengetahui dimana limitasi kita. Limitasi ini bisa berarti prinsip, kaidah, dan norma yang dapat membentengi kita untuk tidak melakukan hal-hal yang diluar batas kewenangan kita.
Kepercayaan orang lain itu sangat mahal harganya, itu sama dengan harga diri kita. Sebaliknya sama ketika menerima kepercayaan dari orang lain, saat itu juga kita harus bisa bertanggungjawab atas kepercayaan itu. Kepercayaan adalah bukti bahwasanya kita diberikan kesempatan untuk menunjukkan performa terbaik dari diri kita. Ada semacam hasrat dan energi dari dalam untuk membuktikan kepercayaan itu menjadi hal yang positif dan berkesan. Parameternya bermacam-macam tapi pada intinya kepercayaan itu diberikan karena kita ingin ada perubahan, perbaikan, dan ujungnya adalah kesuksesan itu sendiri. Tapi, akan selalu ada situasi dan kondisi yang bisa menjadi menghambat kepada orang yang diberikan kepercayaan itu menjadi tidak positif dan performanya justru tidak terlihat. Situasi tersebutlah, yang juga bisa membuat kita hilang kepercayaan. Bukan hanya kepercayaan dari orang lain. Bahkan kepercayaan diri kita sendiripun untuk meyakinkannya tidak ada.
Banyak contoh, di dunia profesional kerja, birokrat, politisi, mahasiswa, dan profes-profesi apapun. Dari level terbawah sampai level tertinggi selalu ada kepercayaan yang dibangun. Seperti halnya, pelamar yang baru saja diterima di perusahaan sudah diberikan kepercayaan terhadap posisi yang dilamar untuk mengerjakan jobdesk yang diberikan oleh atasan, saat itulah pelamar tersebut untuk memberikan performa terbaik untuk menunjukkan kepada atasan bahwa mereka tidak salah pilih orang. Lalu, ada Dirut baru yang ditunjuk oleh para investor atau pemegang saham untuk menyelesaikan masalah-masalah perusahaan, di saat itulah Dirut tersebut harus mengupayakan dengan segenap daya dan upaya untuk menjawab kepercayaan tersebut. Begitu halnya dengan Presiden yang kita pilih, bahasa awamnya adalah mendapatkan amanat dari rakyat dan amanah dari Tuhan, di saat itulah Presiden harus mengorbankan segala kepentingan pribadi dan menumpahkan segala ide, keringat, dan doa semuanya untuk menyejahterakan rakyat dan tidak membuat rakyat menderita.
Meskipun jalannya panjang, prosesnya terkadan berliku. Kalau kita yakin dan mampu jangan ragu untuk menerima kepercayaan itu. Akan tetapi kalau kita merasa tidak sanggup apalagi tidak memiliki kemampuan yang menunjang jangan sampai kita nekad untuk bersepekulasi. Teringat lagunya Slank yang mengatakan "Kepercayaan yang telah ku berikan, janganlah engkau sia-siakan, jangan ingkari janji." Menerima kepercayaan dan menjaga kepercayaan sudah seperti janji yang harus ditepati. Justru orang yang bisa mendapatkan kepercayaan adalah orang yang hebat karena tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama, apalagi ditambah bisa menjaga kepercayaan terhadap orang yang sudah memberikan kepercayaan itu sampai kapanpun kita akan "dipakai dan dilibatkan" akan tetapi bila tidak bisa menjaga kepercayaan kita sudah sulit untuk mengembalikan kepercayaan itu. Be the best, do the best :)
-GYP-
No comments:
Post a Comment