Saturday, June 21, 2014

Pentingnya Politik Sehat

"Mau tidak mau, suka tidak suka, setuju tidak setuju, Indonesia 5 tahun mendatang akan dipimpin salah dua dari empat peserta yang ikut kontestasi Pilpres 2014 ini. ~GYP"
Suasana politik di Indonesia dewasa ini kian mengalami demoralitas, jauh dari nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara kita. Sebab perkara menjelang pilpres saja, dampaknya sistemik sampai kemana-mana. Fanatisme berlebihan dari simpatisanlah salah satu penyebabnya. Mendukung mati-matian jagoannya dan menyerang habis-habisan lawannya. Untuk meraih kekuasaan, politik jangan dimaknai dengan menghalalkan segala cara. Gegap gempita, sorak sorai simpatisan sudah mewabah hampir ke seluruh penjuru negeri. Gairah partisipasi politik yang hanya dirasakan sebagian orang saja. Yang lain? Mungkin hanya menutup telinga atau pura-pura tidak tahu bahwasanya negeri ini sedang menantikan kehadiran pemimpin baru lewat jalan demokrasi. Hanya segelintir orang saja yang masih mau memikirkan politik, mendiskusikan visi-misi capres cawapres, mengkomparasikan jagoannya masing-masing, memperdebatkan agenda Indonesia ke depan. Intinya hanya sedikit saja yang masih peduli memikirkan nasib bangsanya, tidak lebih.

Belakangan ini, serangan melalui udara sudah merajalela. Udara yang dimaksud kali ini adalah melalui media, entah itu TV, radio, media sosial, video, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan kampanye-kampanye periode sebelumnya yang mengandalkan serangan darat, lewat propaganda, manuver politik ke desa-desa, dan lain sebagainya. Memang kampanye menjadi instrumen terpenting dalam sosialisasi visi-misi capres, tapi haruslah dengan metode yang santun. Media yang sekarang sudah dikuasai oleh konglomerat yang juga mencoba terjun di dunia politik. Media saat ini sudah memiliki jagoannya masing-masing untuk diberitakan kebaikannya, sedang calon yang lain akan diberitakan keburukannya habis-habisan. Media sudah tidak kenal lagi yang namanya Cover Both Side, jurnalisnya pun sudah tidak mengindahkan lagi asas independensi dalam meliput. Tak perlu saya beberkan satu per satu apa yang saya maksud, mungkin sudah banyak orang yang lebih tahu.

 Politik negatif dan kampanye hitam lebih dominan mewarnai media daripada kampanye positif. Kampanye negatif merupakan kampanye yang berdasarkan fakta dan data yang buruk, lalu disebarkan ke khalayak luas. Contoh: mencaci maki visi misinya, mengungkit keburukannya yang sudah-sudah, sampai menyerang ke hal yang paling pribadi. Kampanye hitam ialah kampanye yang tidak berlandaskan kebenaran, mengarah ke fitnah, dan menyebarkan keburukan yang tidak berdasar pada fakta dan bukti yang benar. Contohnya, Prabowo berkewarganegaraan Yordania, Jokowi keturunan etnis China dan lain sebagainya. Sedangkan kampanye positif adalah kampanye dengan menyebarkan nilai kebenaran dan mengarah pada ajakan untuk memilih berdasarkan visi, misi, dan program kerjanya. Masih banyak cara etis yang bisa dilakukan oleh simpatisan kandidat untuk menciptakam sebuah bentuk kampanye yang sehat. Mengajarkan politik dengan penuh optimisme terhadap masa depan bangsa. Bertukar pikiran untuk dengan penuh rasionalitas bukan emosi yang menggebu. Dan merajut kembali tenun kebangsaan kita yang plural menjadi energi positif untuk menciptakan persatuan dan kedamain.

Konklusinya ialah jangan hanya karena kampanye dan pemilu yang sifatnya hanya periodik menyebabkan kerukunan kita menjadi pudar selamanya. Perbedaan itu amatlah indah bilamana kita memaknainya dengan bijak, saling menerima, dan saling menghargai. Bukankah Tuhan menciptakan hambanya dengan berbeda-beda supaya saling mengenal satu sama lain. Atau mungkin hanya dua pasang calon menyebabkan dua kubu di tanah air. Terkadang ada perang ideologis dan fanatisme yang berlebihan dari pendukung. Antara Prabowo dan Jokowi, seperti halnya dengan Soekarno dan Soeharto. Keduanya dilahirkan dari era dan ideologi yang berbeda, anatara orde baru dan orde lama. Silakan saling menilai dengan rasional bukan saling menghujat dengan kebencian. Mau tidak mau, suka tidak suka, stuju tidak setuju, Indonesia 5 tahun mendatang akan dipimpin oleh salah dua dari peserta pemilu tahun ini. Yang menang jangan bertepuk dada, yang kalah jangan berkecil hati. Untung bulan ini juga sedang musim sepak bola Piala Dunia 2014, mungkin bisa dijadikan momentum untuk menyatukan lagi seluruh rakyat Indonesia. Ya, gara-gara bola lah rakyat yang terpecah belah karena perbedaan prefernsi politik bisa dapat bersatu kembali. Harapan saya seperti itu untuk bangsaku tercinta.

JAYALAH NEGERIKU INDONESIA, AKU TERLANJUR MENCINTAIMU SAMPAI KE SUM-SUM TULANGKU!!

Tulisan ini dilatar belakangi oleh kegelisahan karena problema kampanye yang tak sehat.

Oleh: Gilang Yudha Prakoso