Dikarang oleh : Imam Syafi'i (767-820)
Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah menjadi manusi mulia, apapun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi
Semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu
Karena jika ia menghinamu
Itu ujian tersendiri bagimu
Takkan abadi segala suka serta lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera
Merantaulah. Gapailah setinggi-tingginya impianmu
Bepergilah. Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji, serta meluaskan ilmu
Oleh : GYP
Saturday, March 22, 2014
Syair dari Ranah 3 Warna
Dikarang oleh : Imam Syafi'i
Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap perbuatan
Terus meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan dirantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya
Pasti diganjar di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsng musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
Oleh : GYP
Bersabar dan ikhlaslah dalam setiap perbuatan
Terus meneruslah berbuat baik, ketika di kampung dan dirantau
Jauhilah perbuatan buruk, dan ketahuilah pelakunya
Pasti diganjar di perut bumi dan di atas bumi
Bersabarlah menyongsng musibah yang terjadi dalam waktu yang mengalir
Sungguh di dalam sabar ada pintu sukses dan impian kan tercapai
Jangan cari kemuliaan di kampung kelahiranmu
Sungguh kemuliaan itu ada dalam perantauan di usia muda
Singsingkan lengan baju dan bersungguh-sungguhlah menggapai impian
Karena kemuliaan tak bisa diraih dengan kemalasan
Jangan bersilat kata dengan orang yang tak mengerti apa yang kau katakan
Karena debat kusir adalah pangkal keburukan
Oleh : GYP
Syair dari Negeri 5 Menara
Dikarang oleh : Imam Syafi'i
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihatair menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia akan bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan
Oleh : GYP
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkanlah negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihatair menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia akan bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa jika di dalam hutan
Oleh : GYP
Sunday, March 16, 2014
SEMANGAT BER-DEMOKRASI DI BUMI PERTIWI
"Demokrasi sesungguhnya tak lain dari aturan kerumunan. Ketika 51 persen suara bisa mengambil alih hak 49 persen lainnya. ~Thomas Jefferson"
Indonesia merupakan negara kepulauan terluas di dunia. Tak ada angka
pasti yang menunjukkan berapa jumlah pulau-pulau di Indonesia sebenarnya.
Kurang lebih ada sekitar 17.622 pulau dan gugusan pulau yang tersebar dari
Sabang sampai Merauke dan dari Pulau Rote ke Miangas. Menggambarkan betapa luas
dan indahnya Ibu Pertiwi, julukan Indonesia. Total luas negara kita ialah
5.193.250 km² yang terdiri dari daratan dan lautan. Luas perairannya sendiri
sekitar 2/3 dari jumlah keseluruhan luas wilayah Indonesia. Selain itu, potensi
sumberdaya alam, pariwisata, flora fauna, keragaman suku dan budayanya sungguh
luar biasa. Tak ada negara di dunia yang semajemuk negara kita. Dengan letak
geografisnya yang juga strategis, Indonesia menjadi salah satu jalur pelayaran
dan perdagangan Internasional. Tak hanya permukaannya saja yang nampak indah,
di dalam perut bumi pertwi ini juga mengandung potensi tambang yang sangat
variatif dan kaya jumlahnya. Namun, apakah negara kita sudah cukup kaya secara
ekonomi? Rakyat Indonesia sudah merasakan kesejahteraan? Atau mungkin
pemerintahlah yang harusnya bertanggung jawab atas semua stagnansi atau
ketertinggalan negara kita? Saya pikir, semua rakyat Indonesia layak untuk
bertanggungjawab dan memikirkan solusinya.
Lalu, bagaimana caranya kita ikut berkontibusi untuk Indonesia, banyak
hal yang dapat kita lakukan. Kalau saya sebagai mahasiswa akan
bersungguh-sungguh dalam belajar, kemudian menjadi orang yang dapat bermanfaat
untuk masyarakat. Kalau kata Anies Baswedan, kita sebagai generasi penerus
harus ikut memikirkan dan melunasi janji-janji kemerdekaan negara kita. Tentu
semua hal tadi adalah sedikit dari gagasan-gagasan yang bisa kita sumbangkan
untuk kemajuan negara kita. Kemudian, berbicara mengenai masyarakat Indonesia
tidak lengkap rasanya bila tidak menyinggung masalah sosial-politik. Dengan
latar belakang atau sejarah, kultur sosial, dan tradisi budaya yang
berbeda-beda, tentu sangat berpengaruh dalam aktivitas politik di Indonesia.
Sebagai contoh, masyarakat Suku Jawa, jumlahnya paling besar dan paling dominan
di Indonesia, hal ini mempengaruhi pada pemimpin dan cara kepemimpinnya.
Terbukti 5 dari 6 Presiden Indonesia merupakan orang dari Suku Jawa. Itu hanya
salah satu contoh saja, di beberapa tempat dan daerah di Indonesia pasti juga
memiliki kekhasan sebuah kultur sosial-politiknya masing-masing.
Apa Itu Demokrasi?
Berbicara mengenai politik di
Indonesia, tak ada salahnya untuk menyangkut-pautkannya dengan demokrasi.
Demokrasi diyakini sebagai sistem yang terbaik dalam pemerintahan, untuk saat
ini. Karena didalam sistem tersebut akan melibatkan banyak pihak dan semuanya
akan saling berhubungan untuk mengeluarkan hasil. Banyak sekali teori-teori
politik yang dapat menjelaskan bagaimana sistem demokrasi ini dapat dijalankan.
Contoh seperti ada teori dari Gabriel A. Almond, David Easton, Herbert Feith,
Montesqueu, John Lock, dan lain sebagainya. Hampir semuanya menyinggung masalah
demokrasi yang melibatkan lemabaga-lembaga pemerintahan dan hubungannya dengan
masyarakat. Secara estimologi, demokrasi berasal dari Bahasa Yunani yaitu demos yang artinya rakyat dan kratein atau kratos yang artinya kekuasaan. Menurut Merriam dalam Webster
Dictionary, Demokrasi dapat didefinisikan sebagai pemerintahan oleh rakyat
terutama mayoritas, pemerintahan dimana kekuasaan tertinggi tetap berada pada
rakyat dan dilakukan oleh mereka bail langsung atau tidak langsung melalui
sistem keterwakilan yang biasanya dilakukan dengan pemilu bebas yang diadakan
secara periodik, rakyat umum khususnya untuk mengangkat sumber otoritas
politik, tidak adanya ditingsi kelas atau prevelese berdasarkan keturunan atau
kesewenang-wenangan. Namun, intinya dalam demokrasi pemegang kekuasaan
tertinggi ialah rakyat.
Demokrasi di Indonesia
Demokrasi merupakan sistem pemerintahan yang berasal dari barat lalu
diadopsi di Indonesia. Sebelumnya, Amerika Serikat sangat gencar untuk
mempromosikan sistem ini untuk disebarkan ke seluruh dunia. Dengan mengatas
namakan rakyat, sistem ini menjelma untuk melawan penindasan tiran atau
diktator. Khusus untuk di Indonesia sendiri, sudah beberapa kali mengalami
eksperimen dalam ber-demokrasi. Tentu banyak sekali pengalan yang dirasakan
dalam perjalanan negeri kita ini, entah baik maupun kurang baik. Pada zaman
Presiden Soekarno, kita mengenal ada demokrasi parlementer atau liberal dan
demokrasi terpimpin, zaman Presiden Soeharto ada demokrasi Pancasila, dan
sekarang pada era reformasi katanya ada demokrasi konstitutional. Semuanya
memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kalau sebelum era
reformasi, demokrasi di negara kita masih tergolong sentralisasi, artinya
pemerintah pusat masih memiliki kendali yang cukup dominan dalam menentukan
arah tujuan negara kita. Beda halnya ketika era reformasi, sudah ada yang
namanya desentralisasi yaitu pelimpahan sebagian tugas dan wewenang dari pusat
ke daerah atau dalam arti lain pemerintah daerah merupakan kepanjangan tangan
dari pemerintahan pusat.
Pada saat lahirnya Undang-undang Dasar 1945 edisi asli, sudah menggambarkan
bahwa Indonesia akan menjalankan dengan cara demokrasi. Yaitu presiden
bertanggung jawab kepada MPR, dimana MPR itu merupakan perwakilan dari rakyat.
Meskipun tidak seluruh rakyat, tapi keterwakilan ini juga merupakan salah satu
prinsip demokrasi. Dulu kala, presiden merupakan mandataris MPR, jadi bisa saja
MPR sewaktu-waktu mencabutnya bilamana ada pelanggara-pelanggaran yang
dilakukan oleh presiden. Terakhir ada Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur
yang dicabut mandatnya oleh MPR yang sebelumnya juga memilih Gus Dur sebagai
Presiden RI ke-4. Alasan MPR melengserkan Gus Dur ketika itu karena dianggap
tidak konstitutional. Dan mulai tahun 2004, presiden tak lagi sebagai mndataris
MPR melainkan presiden yang secara langsung dipilih oleh rakyat. Hal tersebut
menunjukkan bahwa keran demokrasi mulai dibuka, tak lagi hanya mengandalkan
keterwakilan yang justru tak mewakili. Era demokrasi yang semakin melibatkan
orang banyak mulai digunakan, meskipun tak lagi menggunakan prinsip musyawarah
mufakat seperti yang tertuang dalam Pancasila.
Sejarah Demokrasi Kita
Kalau boleh kita kembali ke masa lalu, saya mau sedikit cerita tentang
demokrasi-demokrasi apa saja yang pernah negara kita terapkan. Mulai dari era
orde baru, era kepemimpinan Soekarno ada yang namanya demokrasi parlementer dan
terpimpin. Demokrasi parlementer atau sering masyarakat menyebut dengan
demokrasi liberal pada tahun 1950-1959 ini merupakan era paling kontroversial
dalam perjalanan Republik Indonesia. Kala itu, kepala pemerintahan dipimpin
oleh perdana menteri dan presiden hanyalah sebagai simbol. Dalam perjalanannya
banyak sekali pergantian perdana menteri dan kabinet di tengah-tengah periode.
Namun, banyak juga yang menilai bahwa masa itu adalah masa yang paling
demokratis. Perpolitikan yang cerdas dengan beradu argumen dan retorika yang
produktif ditunjukkan oleh politikus-politikusnya yang berkualitas. Singkat
kata singkat cerita, pada tahun 1955 ada pemilu untuk pertama kalinya. Jumlah
peserta partai politik dalam pemilu tersebut berjumlah 118 dan juga memilih
Dewan Konstituante yang diikuti 91 peserta. Tak terbayang begitu banyak pilihan
yang harus ditentukan oleh warga dalam pemilihan tersebut. Namun,yang menjadi
pujian adalah tingkat partisipasi warga yang begitu tinggi mecapai angka 88
persen.
Setelah masa demokrasi parlementer berakhir, dengan lahirnya dekrit
presiden 5 Juli 1959 masuk ke masa demokrasi tepimpin. Presiden Soekarno yang
kala itu menjadi presiden, ingin keberadaannya dalam pemerintahan lebih diakui.
Dengan kembalinya lagi UUD 1945, Presiden Soekarno ingin menjalankan
pemerintahan tanpa dibantu lagi oleh perdana menteri, padahal Moh. Hatta telah
mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada tahun 1956. Keinginan untuk
mengendalikan politik yang didukung kepentingan militer untuk masuk ke dalam
kekuasaan negara menimbulkan argumen kontrademokrasi. Singkatnya, hal demikian
juga berlanjut pada era pemerintahan Orde Baru oleh Presiden Soeharto.
Kebebasan politik adalah juga kegiatan yang tidak boleh dilakukan dengan dalih mengancam
stabilitas politik. Karenanya, liberalisme dilarang bukan karena bawaan dari
Barat melainkan ancaman bagi ototarianisme. Dan akhirnya era reformasi tiba
dengan membawa angin segar yaitu kebebasan politik. Semua warga negara dijamin
oleh undang-undang untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat.
Demokrasi era sekarang
Hal yang paling saya soroti
dalam demokrasi saat ini ialah distribusi kekuasaan. Dalam penyelenggaraan
negara, kekuasaan politik tak lagi terpusat tapi merata. Dengan adanya
desentralisasi, daerah menjadi punya kuasa atau kewenangan tersendiri dalam
mengurus teritorinya. Selain distribusi kekuasaan tadi, kebebasan pers juga
termasuk terobosan dalam agenda reformasi. Pasalnya, pers seolah merdeka dan
bebas dalam mencari informasi apapun lalu menyebarluaskannya. Tentu, dengan
adanya kebebasan ini jangan sampai pers atau media dijadikan alat untuk
berpolitik atau mengkritik habis-habisan kinerja pemerintah. Seharusnya pers
berada dalam posisi yang netral, dalam hal ini juga sebagai penyalur aspirasi
rakyat yang mungkin jarang terdengar sampai ke telinga pemerintah.
Kemajuan-kemajuan tersebut harus diapresiasi, namun tetap harus ada kontrol
dari semua elemen. Demokrasi yang berjalan biarlah berjalan sesuai dengan
kehendak rakyat dan disesuaikan dengan kultur kita, bukan demokrasi yang
dipaksakan sama seperti di barat. Demokrasi yang substantial yang diharapkan
dan semua rakyat merasa memilikinya, bukan demokrasi yang hanya dinikmati oleh
kelompok elitis.
Harapan dan Kesimpulan Mengenai Demokrasi di Indonesia
Demokrasi memang bukanlah tujuan
dari Bangsa Indonesia. Demokrasi hanyalah salah satu cara untuk mencapai tujuan
dan cita-cita itu. Setelah kemerdekaan Indonesia telah mengalami beberapa kali
pengalaman dalam memilih bentuk demokrasi. Bisa dibilang eksperimen karena
memang waktu itu kondisi belum stabil dan masih bernuansa suka-cita
kemerdekaan. Seiring berjalannya waktu, demokrasi di Indonesia semakin dewasa
selama perjalanannya. Harapan saya, demokrasi di Indonesia harus melibatkan
sebanyak-banyaknya orang. Perbedaan yang selama ini kita alami, harus disikapi
dengan bijak. Kebebasan pers, kebebasan beragama dan menjalankan aktivitas
keagamaannya, menjunjung tingging HAM, menghargai dan menghormati pendapat,
pemerintahan yang bersih, kesejahteraan yang merata, pendidikan yang dijangkau
oleh semua masyarakat, investasi yang besar dan bernilai, pembangunan daerah
yang disesuaikan dengan budaya setempat, masyarakat yang kian partisipatif, dan
lain sebagainya. Beberapa poin tersebut adalah beberapa harapan saya bagaimana
cara ber-demokrasi ini dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk rakyat
Indonesia secara luas dan menyeluruh.
Terakhir, demokrasi di Indonesia
saat ini cenderung berbiaya mahal. Terbukti dengan banyaknya pemilukada, pemilu
legislatif, dan pemilu presiden, namun hasil dan dampak yang dirasakan tidak
terlalu besar. Seperti pemborosan anggaran dan menghambur-hamburkan uang,
proses demokrasi yang melibatkan banyak orang inilah yang sebenarnya lebih
substantif. Kita butuh orang-orang baik dalam artian, seperti sifat Rasullah
yaitu siddiq, tabligh, amanah, dan fathonah. Negara Indonesia milik semua
rakyat yang ada didalamnya, jangan sampai Ibu Pertiwi menangis lagi karena ulah
kita yang tak bisa menjaga dan merawatnya. Harapan esok itu masih ada, apabila
kita masih peduli dan berani merealisasikan cita-cita bangsa kita ke arah lebih
baik, perlu ada persatuan dari seluruh rakyat Indonesia. Bukan bangsa yang
terpecah belah karena perbedaan dan latar belakang. Justru semangat perbedaan
itulah seharusnya dapat dimaknai semangat untuk bersatu. Patih Gadjah Mada
pernah mengatakan, saya tidak akan memakan buah palapa hingga Nusantara bersatu
di bawah bendera kejayaan Majapahit. Seperti itulah semangat ber-demokrasi yang
kita harapkan, semoga kedepan bangsa Indonesia dapat bersinar meninari dunia.
Seperti lilin yang masih semangat memberikan cahayanya dalam kegelapan, walau
nyala apinya kian kecil lalu memudar. HIDUP MAHASISWA!! HIDUP RAKYAT
INDONESIA!!
Ditulis oleh :
Gilang Yudha Prakoso, staff kajian strategis BEM UNPAD
Friday, March 14, 2014
MENIMBANG JOKOWI SEBAGAI RI-1 (PART II)
Semenjak
dirinya terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, dengan berbagai gebrakan yang
telah dilakukan mampu menarik simpati media. Bahkan Jokowi mendapatkan julukan darling media karena saking sering
pemberitaan dirinya yang sampai mengalahkan Presiden SBY. Ini bisa dibilang
fenomena, baik media cetak, online, TV, dan lain sebagainya selalu saja
menyajikan Jokowi sebagai topok yang ramai untuk diperbincangkan. Tidak ada
yang dirugikan, popularitas Jokowi semakin meningkat seiring tampilnya media
dan media pun untung karena banyaknya pembaca atau penonton berita yang
disajikannya. Tapi apakah hal ini baik untuk penonton? Ketika media menggiring
opini publik tentang tokoh tertentu, ketika semuanya dialamatkan pada pesta
politik.
Hal ini
terbukti manjur, popularitas Jokowi melejit jauh mengalahkan capres-capres lain
yang lebih dulu mendeklarasikan dirinya sebagai capres, entah diusung parpol
atau mengaku independen. Peran media sungguh luar biasa dalam membawa pengaruh
poularitas Jokowi yang selalu menang dalam survei. Dalam survei dari Pusat Data
Bersatu (PDB) yang dipimpin Didik J. Rachbini ini, Joko Widodo berada pada
peringkat teratas dengan meraih 21,2 persen suara. Jokowi mengalahkan 12 calon
lainnya, termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Sedangkan
capres-capres yang lain berada dibawah Jokowi. Yang menjadi tanda tanya juga
ialah Jokowi belum pernah sama sekali mendeklarasikan bahwa dirinya berniat
maju sebagai capres dari PDIP (bukan RI). Semua tergantung Bu Mega, tapi media
senang sekali menarik ulur hal ini agar menimbulkan opini publik.
Ketika sudah
menjadi Gubernur DKI Jakarta, harusnya Jokowi fokus untuk mengerjakan
tugas-tugas yang mesti diselesaikannya. Tak lagi berpikiran ingin maju sebagai
presiden. Jokowi sudah menjadi milik warga Jakarta bukan lagi milik PDIP
apalagi Bu Mega saja. Sudah cukup untuk meninggalkan warga Solo saja yang
ditinggalkannya ditengah-tengah kepengurusannya. Sekarang mau lagi warga DKI
Jakarta di PHP-in demikian lagi? Coba kita ingat-ingat lagi berapa anggara yang
dikeluarkan dalam menyelenggarakan pilkada di Solo. Dan di DKI Jakarta, menurut
KPUD total anggaran yang dikeluarkan sepanjang dua kali putaran Pilgub DKI
sebesar 258 miliar rupiah. Siapa dirugikan dan siapa diuntungkan? Memang
terbukti benar bahwasanya demokrasi di Indonesia berbiaya sangat mahal hanya
untuk mencari pemimpinnya.
Lalu, ketika
nanti andai Jokowi benar-benar maju dalam bursa capres apakah ini sebagai
peningkatan kariernya atau peningkatan suara PDIP? Sekejen PDIP, Tjahjo Kumolo
telah memberikan sinyalmen apabila PDIP meraih angka diatas 20 persen pada
pemilu nanti, maka PDIP akan mengusung Jokowi untuk disandingkan dengan Bu
Mega. Dan apabila suaranya dibwah angka 20 persen maka Jokowi akan dipasangkan
dengan tokoh lainnya. Semua menunggu hasil suara pada pemilu legislatif nanti
pada penentuan presidential treshold di parlemen. Dari pernyataan tersebut
mengindikasikan bahwa PDIP tetap akan mengusung Jokowi untuk mendongkrak suara
partainya dan Bu Mega masih ingin maju menjadi Capres RI untuk yang ketiga
kalinya. Terlebih Jokowi juga menjadi juru kampanye di beberapa daerah dalam
pemenangan kader PDIP ikut yang bertarung di pilkada. Beberapa waktu lalu
tepatnya hari Rabu, 12 Maret 2014 bersama Bu Mega, Jokowi nyekar ke makam proklamator RI Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
Jokowi meninggalkan daerahnya pada hari kerja dan tak ada ijin untuk melakukan
agenda tersebut, ini tidak etis karena sifatnya kunjungan pribadi apalagi
dengan statusnya sebagai kader PDIP untuk menemani Bu Mega (lagi).
Beberapa hal yang menyebabkan
popularitas Jokowi merangkak tinggi :
1. Mobil
Esemka yang ingin dipakai sebagai mobil dinas di Solo, namun tak jadi (tak
lolos uji emisi).
2. Gaji
sebagai walikota yang tak diambil (karena tunjangannya melebihi gaji tersebut).
3. Akan
naik mobil rental (innova) meski disediakan mobil dinas (akhirnya ya
menggunakan juga mobil dinas itu).
4. Meresmikan
flyover Dr. Satrio yang dapat memecah kemacetan (padahal proyek jaman Foke).
5. Dan
hal-hal lain yang dibuat media supaya menaikkan citra dan popularitas Jokowi.
Saya tidak
tahu apakah benar apabila selama ini Stanley
Bernard 'Stan' Greenberg, konsultan politik, pollster, ahli strategi
pemenangan pemilu - pilpres nomor wahid di dunia, yang ternyata terbukti selama
ini bertindak sebagai 'sutradara atau otak' di balik rekayasa pencitraan dan
melambungnya popularitas Jokowi selama dua tahun terakhir. Stan
Greenberg, Ketua Korps Demokrat Amerika Serikat (AS), dikabarkan
merupakan sahabat karib konglomerat Indonesia James Riady yang keduanya juga
adalah anggota elit Arkansas Connection, sebuah organisasi yang sangat
berpengaruh di AS. James Riady selama ini disebut-sebut sebagai
konsultan politik yang memenangkan Jokowi pada Pilgub DKI beberapa waktu lalu. Dan
seolah-olah Jokowi hanya boneka dari Bu Mega, kemana-mana nurut dan mau bila Bu
Mega berkehendak. Huwallahu’alam.
Yang jelas, kesimpulan dari saya selama ini
Jokowi hanyalah Capres wacana saja karena belum tentu juga ia akan maju dalam
pemilu ini, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hanya Allah, Jokowi, dan Bu Mega
lah yang pasti tahu bagaimana permainan politik nantinya yang akan
dipertunjukkan. Lembaga-lembaga survei yang selama ini menampilkan sebagai
capres juga belum tentu valid benar. Dan media-media yang selama ini selalu
membungkus Jokowi dengan apik juga belum tentu independen benar. Dan yang
terpenting fenomena Jokowi telah mampu mengalahkan Konvensi Partai Demokrat
yang diisi oleh orang-orang hebat dan konten yang lebih bermutu. Tulisan diatas
hanyalah persepsi pribadi dari saya tentang “Fenomena Jokowi”, jangan ada yang
tersinggung atau marah karena tulisan ini hanyalah ditulis oleh mahasiswa
semester 4 yang sok tahu. Semoga bermanfaat. :)
Oleh : GYP
Oleh : GYP
MENIMBANG JOKOWI SEBAGAI RI-1 (PART I)
"Saya hanya bekerja dan bekerja, tak peduli penilaian orang mau jelek, mau gagal, mau berhasil yang penting saya bekerja. ~Jokowi"
Tak dapat
dipungkiri, popularitas Joko Widodo atau akrab di sapa Jokowi masih melambung
tinggi mengalahkan tokoh-tokoh lain yang ikut meramaikan bursa calon presiden
RI 2014. Siapakah Jokowi? Pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 saat ini menjabat
sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Mengawali karier dari bawah
setelah tamat menyelesaikan gelar insinyur Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada
(UGM), Yogyakarta, setelah lulus beliau sempat merantau ke Aceh untuk bekerja
di salah satu BUMN. Kemudian kembali lagi ke Solo untuk bekerja di salah satu
CV yang bergerak di bidang perkayuan. Setelah memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang cukup, pada tahun 1998 dirinya mendirikan perusahaan bisnis di
bidang meubel dan dengan kerja kerasnya berhasil untuk mengembangkan bisnisnya
untuk dapat mengekspor hasil meubelnya ke luar negeri.
Mengenal Jokowi
Dimulai dari
bergabungnya ke dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan latar
belakang sebagai pengusaha meubel. Pada tahun 2005, Jokowi mencalonkan diri
sebagai Walikota Solo, banyak kalangan yang meragukannya untuk memimpin. Namun,
dengan bantuan mesin partai dan kendaraan politiknya beliau terpilih sebagai
Walikota Solo periode 2005-2010. Perlahan kemajuan nampak dirasakan oleh warga
Solo, mulai dari penataan kota, merapikan pedagang kaki lima (PKL), mempopulerkan branding Kota Solo yakni “The Spirit of
Java”, meningkatkan investasi mulai dari perhotelan, restoran, dan pusat
perbelanjaan serta mengajukan Solo sebagai kota-kota warisan dunia. Semua hal
itulah yang dapat menjawab keraguan dari kalangan-kalangan sebelumnya dengan
hasil yang dirasakan. Dengan gaya memimpin yang sederhana dan komunikasi publik
yang apa adanya beliau menjadi walikota yang dicintai oleh warga Solo.
Tahun 2010,
Jokowi kembali mencalonkan sebagai walikota periode kedua. Alhasil, dengan
angka yang mengejutkan dirinya memperoleh suara lebih dari 90 persen dari
masyarkat Solo. Angka ini adalah angka yang fantastis, menjadi rekor perolehan
suara tertinggi untuk kepala daerah di Indonesia. Saat itu, gencar yang namanya
mobil nasional, dalam hal itu ada produksi mobil buatan anak SMK yaitu esemka.
Tak ayal bila Jokowi masih menggunakan mobil dinas bekas pendahulunya dan
berniat menggantinya dengan mobil buatan pelajar. Salah satu hal itulah yang
membuatnya sering diliput oleh media. Semua media baik lokal maupun nasional
tiap hari menampilkan sosok media yang mebuatnya semakin dikenal oleh
masyarakat luas di seluruh Indonesia.
Awal Kiprah di level
atas
Tahun 2012 ada
agenda besar di DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia yaitu pemilihan gubernur.
Kompetisi yang sangat sengit di level kepala daerah karena hampir semua suku,
profesi, akademisi, praktisi, ahli, dan lain sebagainya ada didalamnya. Menjadi
tantangan tersendiri ketika Jokowi akhirnya memutuskannya sebagai calon
gubernur yang kembali diusung oleh PDIP. Kali ini dipasangkan oleh Basuki
Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok. Keduanya mantap berkompetisi padahal ada
lawan berat sebagai incumbent yaitu
Fauzi Bowo. Dengan perjuangan dua putaran akhirnya mampu memenangkan dan
meyakinkan warga Jakarta dengan suara 53,81 persen. Dengan jargon Jakarta Baru
dan gaya blusukan yang khas dengan
mendengar aspirasi langsung dari masyarakat mampu mengipnotis untuk
mendukungnya. Bukan hal yang mudah untuk menyelesaikan multi-complex cases in Jakarta dengan jumlah penduduk yang sudah
tak sesuai dengan luas wilayahnya menyebabkan kondisi Jakarta kian tak
manusiawi. Mulai dari macet yang luar biasa, banjir hampir tiap tahun,
pemukiman kumuh, ketertiban warga Jakarta, dan masalah lainnya.
Saya bukanlah
warga Jakarta tapi saya mengamatinya menjadi masalah yang besar ketika kota
dengan beragam keindahannya masih menyimpan banyak persoalan yang tak enak.
Apalagi dengan status sebagai ibukota negara besar yang cukup terkenal seantero
jagad. Dalam mengambil setiap kebijakan untuk merubah wajah ibukota bukan hanya
masalah administratif saja tapi juga dengan adanya kepentingan politik. Yang
melibatkan banyak kalangan dalam mengambil keputusan, baik elit politik maupun
massa politik. Dengan status sebagai gubernur, Jokowi diharapkan benar-benar
mampu mewujudkan Jakarta Baru. Kiprahnya dalam panggung politik mestinya harus
dimaknai untuk mensejahterakan masyarakat, bukan kepentingan parpol apalagi
dirinya sendiri. Jokowi bagi saya sangat pantas untuk menjadi gubernur, warga
Jakarta telah mempercayakan amanah kepadanya, jadi mohon jangan disia-siakan.
Saya mendukung betul apabila Jokowi tetap mempertahankan posisinya sebagai
gubernur yang telah dirauhnya dengan perjuangan yang luar biasa. Jangan tergoda
untuk maju ke pentas politik nasional (untuk saat ini).
Oleh : GYP
Oleh : GYP
Subscribe to:
Posts (Atom)
