Hari berganti hari, pagi bertemu pagi
Dari pemilu ke pemilu, rezim pun terus berganti
Sudah berapa banyak janji kampanye yang kau ingkari
Untuk mempertahankan suksesi
Kau sebut mereka pahlawan devisa, para TKI-TKW
Tapi seberapa perduli kau dengan mereka?
Segala kelemahan dan kemiskinan mereka tak berdaya
Jerit tangis dan luka seakan sudah biasa
Siksaan, hinaan, bahkan ancaman nyawa pun pernah mereka rasa
Entah sudah berapa banyak tetesan darah dan keringat
Berjihat di negeri orang bermodal nekad
Demi keluarga, agar perut tak lagi lapar
Kita bagai bangsa yang tak punya ukuran
Tak jelas siapa yang dibela dan dicela
Bahkan di negeri sendiri masih ada yang menghina
Sedangkan bila TKA kau puja puji bak dewa penyelamat
Taukah engkau, bahwa TKI-TKW lebih mulia diantara kita
Mereka tak peduli apa itu karir dan pekerjaan
Tapi satu hal, mereka tidak pernah merampok uang negara
Mereka tidak pernah mencuri yang akan dia makan
Ironisnya, justru negara yang ngemis uang mereka
Dengan alasan untuk devisa dan kontribusi negara
Tapi saat mereka tersiksa di negeri orang
Mereka lebih memilih menutup mata dan telinga
Wahai penguasa, kau sebut mereka pahlawan devisa
Tapi di bandara, pelabuhan, atau manapun kau anggap dia siapa?
Mengapa pintu keluar/masuk selalu dipisahkan?
Mengapa ketika mereka kembali tak kau sambut malah kau rebut?
Jakarta, 24 April 2018
-GYP-
No comments:
Post a Comment