Saturday, August 30, 2014

Mengumpulkan Kembali Sisa-Sisa Impian

"Vita non est vita, non reflectitur experiendae. Hidup yang tidak direfleksikan 
adalah hidup yang tak layak dijalani" ~Aristoteles

Kadang diatas, terkadang dibawah pula. Pernah berjaya, pernah juga nelangsa. Sering bahagia setengah mati ketika harapannya tercapai, seringkali kecewa juga ketika ekspektasinya meleset dari target atau bahkan gagal sama sekali. Hidup ini perjuangan, perjuangan itu hidup, kawan. Jangan pernah sekalipun menyia-nyiakan hidup yang hanya sekali saja di dunia. Tidak lebih. Kalo hidup hanya sekedar hidup, binatang buas pun juga hidup di hutan belantara sana. Kalo hidup hanya ingin nikmat dan bahagianya saja, rasanya kita tak cukup merasakan yang namanya 'makna hidup'. Beda halnya bila kita merasakan getir, pahit, gagal, menunggu ketidakpastian, ditolak, kecewa, dan lalu kita bisa bangkit lagi dan mengevaluasi kesalahan lalu. Itu bisa dikatakan bahwa sebenernya hidup itu berharga bilamana kita mampu melewati tantangan dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT.

Saya jadi teringat kembali, dulu seringkali punya list impian dan target yang ingin dicapai. Mulai dari tahun, usia, sampai apa saja yang harus dipersiapkan. Jangan pernah takut dan ragu untuk menuliskan impian yang tinggi, jangan tanggung-tanggung, karena Allah juga tidak pernah tanggung-tanggung memberikan nikmat yang luar biasa bagi hambanya yang bersyukur dan bersabar. Kalo kita yakin terhadap mimpi-mimpi kita dan tahu bagaimana harus mewujudkannya, inshaAllah suatu saat Tuhan akan menjawabnya. Keep positive thinking kawan! Tapi, biasanya orang punya impian besar karena ada pemicunya, mungkin motivasi, kegagalan sebelumnya, atau masalah-masalah lain yang hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu. Semua orang memiliki pilihan, prioritas, dan misi hidupnya masing-masing, tergantung dari apa yang kita inginkan.

Keluar Dari Zona Nyaman itu Penting

Alangkah indahnya bilamana suatu saat satu per satu impian yang kita harapkan dapat terwujud tuntas. Tapi itu tidak mudah kawan. Hasil akan berbanding lurus dengan proses yang kita jalankan. Bolehlah kita bermimpi tinggi malah harus, tapi kalau usaha dan prosesnya masih dibwah rata-rata orang kebanyakan yatentu sulit terwujud. Keluar dari zona nyaman, mungkin terdengar klise tapi ini sangat penting untuk membantu proses mewujudkan impian. Terkedang kita sudah terlanjur terlena dengan kenikmatan yang kita rasakan sekarang, tapi kan kita belum tentu tahu apa yang akan terjadi esok dan lusa. Nah, oleh karena itu jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan sesaat sekarang. Main kesana kesini, ketawa sana sini, pacaran yang berlebihan, atau sudah cukup puas dengan capaian sekarang. Sampai-sampai kita lupa dengan cita-cita dan misi hidup kita. Kelak kita tidak akan hidup untuk dirinya sendiri, ketika sudah berpasangan tentu ada tanggung jawab lebih untuk menafkahinya. Berkhayal futuristis juga sangat baik, kawan.

Sedikit cerita, akhir-akhir ini saya merasa sudah terlena dengan apa yang saya jalani. Sampai lupa dengan impian saya yang lebih esensial, lupa meng-improve diri, lupa memantaskan diri, lupa merefleksikan diri, dan lupa mendekatkan diri kepada Tuhan. Serta pada akhirnya satu persatu masalah datang menghampiri silih berganti. Dengan kondisi psikis dan fisik yang tak siap, alhasil justru menjadi gelisah dan beban yang menghantui. Saya harus bangkit! Bangkit dari masalah yang mendera. Saya harus mau keluar dari zona nyaman sekarang dan meramu kembali mimpi-mimpi yang sempat tertunda. Tidak ada perjuangan yang sia-sia semua akan ada ganjarannya. Tuhan Maha Mengetahui mana saja hambaNya yang bekerja keras mana yang bermalas-malasan. Karena Dia-lah sebaik-baiknya penilai dan paling objektif. So, tunggu apalagi mulai detik ini harus kembali merajut mimpi-mimpi dengan persiapan yang lebih matang.

Fokus pada Misi

Bagaikan bola bekel yang dijatuhkan dari atas menuju lantai lalu akan kembali memantul ke atas dengan jangkauan yang lebih tinggi. Barangkali itu yang sedang saya cari dan pikirkan. Kita tidak akan menemukannya, apabila kita tidak mencarinya. Impian saya kelak ialah lulus S-1 sesuai target, skripsi menjadi buku, lanjut ambil master di University of London, nonton Arsenal di Emirates Stadium, keliling Eropa, kerja di KBRI, dan selalu ada pendamping (lover) yang selalu menemani dalam proses perjalanan meraih misi tersebut. Kita tidak akan tahu apakah akan terwujud semua ato tidak, yang jelas saya selalu ingat 3 pepatah Arab:

Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Man sabhara zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)
Man saara ala darbi washala(siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)

Kembali fokus pada impian harus dibuktikan dengan kerja keras diatas rata-rata orang lain dan doa yang terus menerus serta pasrah kepada Tuhan kita. Ini bukan sekedar ambisi pribadi saja tapi lebih ke arah pembuktian bahwasanya hidup itu perjuangan yang tak henti-hentinya sampai kita benar-benar bisa mendapatkannya. Jangan hanyut dan tenggelam pada keputus asaan. Sikap optimis harus terus dipupuk. Jangan merengek pada keadaan, tapi bersikukuhlah kemana tujuan kita akan menyambut. Domainnya adalah waktu. Selalu ada Tuhan untuk hati bersandar dan jiwa raga kita bertumpu. Dan segala impian yang telah digoreskan itu harus direbut dengan perjuangan diatas rata-rata. Teguhkan niat, sholat, dan sabar. Tuhan Maha Melihat. Ayo bangkit! Bismillah :)

Oleh: Gilang Yudha Prakoso


Tuesday, August 26, 2014

Pembatasan BBM bersubsidi memicu kelangkaan



Akhir-akhir ini sedang marak pemberitaan mengenai kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di berbagai daerah di Indonesia. Sulitnya masyarakat untuk mendapatkan BBM bersubsidi akan berdampak sistemik pada laju perekonomian di Indonesia, karena rata-rata bergantung pada bahan bakar fosil yang bernama premium dan solar ini.  Secara teori ekonomi, barang yang sulit didapatkan, maka akan bertambah nilai jualnya. Akan tetapi, meskipun BBM susah didapatkan harganya pun masih sama. Mungkin inilah yang jadi alasan pemerintah untuk mengeluarkan beberapa kebijakan. Antara mau membatasi jumlah peredaran BBM atau menaikkan harga BBM bersubsidi. Ini masih menjadi kegamangan bagi pemerintah dan meresahkan masyarakat yang terkena dampaknya.

Sebelumnya, pasca lebaran 2014 pemerintah melakukan pembatasan solar di semua SPBU di wilayah Jakarta Pusat. Setelah itu, mencabut BBM bersubsidi aliasa premium di semua SPBU yang berada di jalan tol. Dan membatasi konsumsi BBM bagi nelayan yang memiliki kapal besar. Jelas ada pro kontra terkait kebijakan ini. Namun, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik menyebutkan bahwa pemerintah tidak akan mencabut pembatasan dan mengendalian suplai BBM subsidi. Kebijakan ini diambil agar menjaga kuota BBM subsdi yang sebesar 46 juta kilo liter agar tidak habis sampai akhir tahun. Secara nasional ada pengurangan jatah 2 juta kilo liter dari 48 juta kilo liter yang konsekuensi logisnya akan terjadi ketebatasan BBM subsidi di SPBU. Selain itu pemerintah juga memberikan himbauan supaya pengendara mobil untuk membeli BBM yang non subsidi, karena BBM bersubsidi idealnya hanya diberikan untuk masyarakat yang kurang mampu. 

Dampak berlakunya pembatasan

Tentu akan imbas dibalik aturan pembatasan BBM bersubsidi ini. Pemerintah, Pertamina, dan BPH Migas sepakat untuk melakukan pengurangan jatah sebesar 5 persen. Tujuannya untuk mengendalian konsumsi. Akibatnya antrian panjang hampir terjadi di semua SPBU di seluruh pelosok negeri. Masyarakat menjadi panik dan kawatir bila pada akhirnya premium dan solar akan habis di pasaran. Saya pribadi sebagai konsumen BBM bersubsidi ikut merasakan betapa sulitnya mendapatkan premium, pasalnya selain kepanikan pasokan di SPBU akan habis kitaakan mengantre panjang berebut dengan konsumen lainnya. Selain itu yang dikawatirkan ialah adanya oknum-oknum yang sengaja menyelundupkan pasokan BBM untuk kemudian dijualnya lagi dengan harga yang lebih tinggi. Jelas ini sebuah pelanggaran, karena ada yang sangat diuntungkan ditengah kesulitan masyarakat. Semoga dampak dari pembatasan penyaluran BBM ini lekas berlalu, supaya masyarakat dapat beraktivitas normal kembali.

Atas pertimbangan ekonomi atau politikkah?

Publik pun juga bertanya-tanya kenapa harus ada kelangkaan ditengah transisi pemerintahan. Apakah pemberiaan subsidi ini tepat sasaran untuk rakyat yang membutuhkan karena pertimbangan ekonomi atau sekedar kebijakan populer untuk kepentingan politik. Hemat saya dua-duanya bisa saja benar semua. Karena alasan faktor ekonomi, tentu jelas karena pasokan produksi dan distribusi lebih sedikit dari konsumsi masyarakat Indonesia. Hal inilah yang menyebabkan kelangkaan barang dan membengkaknya APBN yang harus dikeluarkan untuk mentalanginya. Di samping itu, ada faktor politik semua kebijakan ada di tangan pemerintah, BPH Migas merekomendasikan sedangkan Pertamina yang akan melaksanakannya. Kebijakan pemerintah inilah yang acap kali sedikit memberatkan antara menaikkan harga BBM, mempertahankan subsidi yang dapat merakibat meningkatnya inflasi, atau membatasi kuota BBM bersubsidi di pasaran. Ketiganya bagus apabila diyakini dapat tepat sasaran dan imbasnya luas untuk rakyat Indonesia, terutama yang tidak mampu. Harapannya juga untuk menyelamatkan fiskal negara kita yang telah dirumuskan dalam RAPBN 2015 untuk menjaga stabilitas ekonomi, tentu juga politik.

Menanti konsistensi PDIP

Tentu kita ingat betul, ketika dua tahun yang lalu situasi dan kondisinya sama ada desakan untuk menaikkan harga BBM yang harus dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Akan tetapi fraksi PDIP dengan lantang menolak kenaikkan tersebut dan meminta pemerintah untuk melakukan solusi-solusi lainnya tanpa harus menaikkan harga. Akan tetapi pernyataan belakangan ini dari Presiden terpilih Joko Widodo, mendesak pemerintah supaya segera menaikkan harga. Sekarang masih di era Presiden SBY, pada ,asa transisi seperti ini pulalh Jokowi tidak ingin terkena beban pemerintahan sebelumnya. Ada kontradiksi terkait respons PDIP dulu dan sekarang. Biarlah rakyat Indonesia yang menilainya.

Solusi Alternatif

Harus ada terobosan yang terstruktur, sistematis, dan masif untuk mengeluarkan solusi alternatif untuk menghindari kelangkaan BBM bersubsidi. Sebelumnya Presiden SBY telah mengeluarkan kebijakan untuk membatasi BBM bersubsdi. Diantaranya mobil pemerintah dan plat merah harus menggunakan BBM non subsidi dengan label stiker di mobil. Selain itu, ada beberapa solusi alternatif yang bisa dipertimbangkan:
1.      Pemerintah juga harus mendorong warganya untuk beralih ke transportasi umum. Jumlah armadanya diperbanyak, diberikan subsidi oleh pemerintah, fasilitas menaikkan dan menurunkan penumpang harus nyaman. Pasti masyarakatpun akan tertarik untuk beralih dari mobl pribadi ke moda transportasi umum.
2.      Subsidi untuk pengembangan energi baru dan terbarukan harus ditambah jumlahnya, guna menunjang percepatan produksi energi alternatif tersebut.
3.      Mengadakan program hari bebas kendaraan menjadi program nasional, tujuannya jelas untuk penghematan konsumsi BBM.

Konklusi

Antrean panjang di hampir seluruh SPBU jangan ditanggapi terlalu panik dan kawatir. Kuota BBM bersubsidi dipastikan akan ada hingga akhir tahun ini. Hanya saja kuotanya dikurangi secara nasional. Semoga tidak menghambat stabilitas ekonomi dan politik negeri kita ditengah transisi pemerintahan ini. Masyarakatpun diharapkan juga mengerti untuk melakukan penghematan BBM, jangan menggunakan untuk hal-hal yang tidak berguna. Dan yang dikawatirkan lainnya ialah adanya oknuim-oknum penyelundup BBM bersubsidi. Polri harus lebih sigap dalam melakukan patroli di beberapa daerah supaya masyarakat tidak dirugikan dengan adanya pembatasan BBM bersubsidi ini. Dan mahasiswa juga diharapkan turut mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro terhadap rakyat. HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!

Gilang Yudha Prakoso
Kajian Strategis BEM UNPAD