Mungkin seringkali kita mendengar istilah “Ibukota lebih kejam dari ibu
tiri”. Gambaran tersebut mengindikasikan sulitnya bertahan hidup di kota besar
khususnya Jakarta. Tidak meratanya pembangunan di daerah menyebabkan banyak
masyarakat yang berurbanisasi menyesaki daerah di Jakarta dan sekitarnya.
Keadaan tersebut berdampak pada semakin padatnya wilayah pemukiman maupun
komersil. Bila tata ruang dan wilayah tidak terkendali akan menimbulkan efek domino
bagi bayak masyarakat. Ketersediaan air bersih, ruang terbuka hijau (RTH),
lingkungan dan udara yang bersih masih menjadi mimpi yang belum bisa terwujud.
Heterogenitas masyarakat yang ada di Kota Jakarta juga sensitif terjadi
konflik.
Jakarta merupakan Ibukota Negara Republik Indonesia yang menjadi salah
satu kota megapolitan terbesar di dunia. Derap laju pembangunan semakin maju
dari waktu ke waktu. Pusat pemerintahan dan perekonomian nasional berada di
kota ini. Memang kemajuan pembangunan di Jakarta sekaligus menjadi simbol
kemajuan dari Indonesia. Letaknya yang strategis berada di jalur perdagangan
internasional dengan didukung pelabuhan dan bandar udara internasional
menjadikan Jakarta menjadi lokasi pilihan para investor di seluruh dunia untuk berinvestasi,
baik barang maupun jasa. Kegiatan pemerintahan dan perekonomian tersebut
menciptakan mobilitas warganya untuk melakukan aktivitas yang produktif.
Lebih dari 75 persen perputaran uang nasional terjadi di Jakarta. Dari industri
mikro sampai perusahaan multinasional ada semua di sini. Tawaran penghasilan
tinggi serta gaya hidup khas perkotaan yang tinggi dapat menciptakan hedonisme.
Masyarakat kelas menengah menjadi subjek konsumerisme gaya baru dimana belanja
dan nongkrong menjadi habit yang melekat secara langsung maupun tidak. Kondisi
tersebut memiliki dua sisi baik positif maupun negatif. Positifnya adalah
kegiatan ekonomi tumbuh dengan baik karena perputaran uang yang sangat besar
dan menciptakan lapangan kerja baru untuk beberapa sektor. Sedangkan dampak
negatifnya adalah masyarakat terutama kamu milenials cenderung konsumtif dengan
menghabiskan uang (spend money) untuk
memenuhi hobi atau gaya hidup, hanya sedikit yang produktif untuk investasi
atau menabung (saving).
Di sini lain, masih banyak disparitas antara si kaya dan si miskin yang
bisa kita jumpai di Jakarta. Pemukiman kumuh di samping rel kereta api dan tepi
sungai dengan kondisi semi permanen jumlahnya masih sangat banyak. Hal itu
masih sedikit beruntung disbanding rakyat yang tidak memiliki rumah sekali
alias homeless, mereka biasanya tidur di bawah kolong jembatan layang atau
beberapa ada yang di gerobak. Kaum marjinal dan rakyat kecil seperti itu kurang
mendapat perhatian di negara kita, mereka hanya menjadi objek kampanye oleh
para politisi tapi sering dilupakan ketika sudah terpilih. Ancaman penggusuran
dan pengusiran oleh aparat sering menghantui mereka. Kepemilikan tanah yang
tidak jelas pada bangunan semi permanen juga menjadi alasan hak pemerintah
untuk menggusurnya dengan dalih untuk kepentingan publik. Tanpa kompensasi dan
iba mereka dilibas oleh kekuasaan. Keadilan sosial memang menjadi barang mahal
di negara kita ini.
Pembangunan memang selalu menjadi paradoks, bisa menyejahterakan maupun
menyengsarakan, bisa menumbuhkan juga mematikan, dan bisa menghidupkan bahkan
mematikan. Suka tidak suka, mau tidak mau pembangunan pasti akan terus terjadi.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga dituntut untuk meningkatkan
pembangunan manusia yang berkualitas. Pembangunan fisik itu eksoterik yang
hanya terlihat oleh panca indra dampak pembangunannya. Namun bila pembangunan
manusia itu isoterik yang akan melahirkan peradaban manusia-manusia Indonesia
yang berdaya saing, berkarakter kuat, dan berkepribadian unggul untuk
menyongsong masa depan. Semoga ibukota Jakarta yang kita sayangi ini dapat
menjadi contoh dan bukti yang otentik untuk kemajuan Bangsa Indonesia
seluruhnya.
Oleh:
Gilang Yudha Prakoso
Kalibata,
17 Januari 2018