Thursday, February 15, 2018

SAJAK TENTANG MATA

Mata adalah alat indra vital dalam tubuh kita
Sebagai media untuk melihat keindahan dunia
Menyaksikan langsung orang-orang terkasih di sekitar kita
Memudahkan untuk menilai jelita atau nestapa

Mata adalah bahasa tanpa kata
Bisa menjawab meski tanpa kalimat
Indahnya bisa membuat orang jatuh cinta
Bukti kejujuran atau kebohongan yang tersemat

Tapi mata punya kekurangan
Bisa melihat orang lain tapi tidak bisa melihat dirinya
Tidak bisa melihat yang jauh, melainkan yang dekat
Hanya melihat yang tampak dari luar, bukan dari dalam
Tidak bisa melihat keseluruhan, tapi hanya sebagian
Tidak bisa melihat sesuatu yang tidak terbatas, karena pasti terbatas
Banyak melakukan kesalahan dan kekeliruan
Besar jadi kecil, panjang jadi pendek
Luas jadi sempit, tinggi jadi rendah

Mata bisa melihat apabila ada cahaya
Entah terang, entah redup
Berbeda dengan hati atau akal
Tetap bisa melihat pun bila gelap

Oleh: Gilang Yudha Prakoso


Pentingnya Waktu dalam Hidup Kita



“Time flying so fast” mungkin sebagian besar dari kita pernah mengetahui istilah tersebut. Ya, kadang kita merasa waktu berjalan sedemikian cepatnya. Sering juga bergumam “perasaan baru kemarin yaa..” atau “baru juga kita mulai tapi kok udah hampir selesai yaa…” dan seterusnya. Namun, di sisi lain kita juga merasakan waktu berjalanan begitu lambat dan seakan lama sekali. Waktu terbagi dalam tiga bagian yaitu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Padahal dalam filsafat yang mutlak adalah ruang dan waktu. Ukuran waktu apapun yang kita digunakan sebagai petunjuk sebenernya sesuatu yang konstan atau tidak dinamis. Lalu kenapa kita sering merasa waktu seolah terasa begitu cepat atau lambat? Kalau menurut penulis pribadi itu hanya sebuah ilusi karena akselerasi atau percepatan dari masing-masing orang itu berbeda-beda. Percepatan untuk mencapai titik mula ke titik yang dituju itu tergantung kendaraan apa yang kita gunakan. Dengan kata lain, segala kerja dan kesibukan kita itu menentukan percepatan yang ditempuh tersebut. Bila pekerjaan menumpuk, banyak deadline yang harus diselesaikan, banyak agenda yang harus dipenuhi, dan sebagainya sangat memungkinkan apabila jatah waktu 24 jam sehari terasa begitu kurang. Sedangkan, orang yang tidak memiliki kesibukan atau keseringan menunggu yang tidak pasti tentu akan merasakan waktu berjalan begitu lama.
Dalam firman Allah SWT dituliskan mengenai demi waktu dimana waktu itu sangat berharga dan kita akan menjadi orang yang merugi apabila tidak bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Beberapa gambaran lainnya tentang waktu yang dijelaskan dalam Al-Qur’an adalah mengenai siang dan malam. Ibadah mahdoh atau ibadah wajib dalam Agama Islam pun juga dilaksanakan berdasarkan pada waktu-waktu yang telah ditentukan oleh Allah SWT. Begitu disiplinnya apabila kita dapat menjalankannya dengan tepat waktu. Tidak hanya dalam urusan akhirat, Allah SWT pun juga senang apabila hambaNya mengisi waktunya untuk duniawi yang positif. Artinya harus ada keseimbangan antara keduanya untuk saling mengisi dan melengkapi. Mengenai manajemen waktu tidak ada teori pasti yang bisa menjelaskannya secara ilmiah, semua orang memiliki metode dan prioritasnya masing-masing untuk mengatur waktu agar bisa sesuai dengan diri kita. Tetapi, alangkah hebatnya orang-orang yang dapat membagi waktunya antara akhirat dan duniawi secara proporsional.
Waktu akan terus berjalan ke depan dan tidak akan pernah kembali satu detik lalu. Kemarin adalah sejarah bagi hari ini dan hari ini adalah sejarah bagi hari esok. Ada pepatah Islam yang terkenal “Bekerjalah sebaik-baiknya seolah hidup akan selamanya dan beribadahlah sebaik-baiknya seolah esok hari akan mati”, sebuah kalimat yang banyak makna apabila kita mampu meresapinya. Dalam hidup memang tidak ada kepastian dan yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Selain itu kita juga harus memahami bila hidup itu juga dosis dimana kita ”tahu kapan harus makan, kapan harus berhenti; kapan harus tidur, kapan harus terjaga; kapan harus bertemu, kapan harus berpisah, dan seterunya”. Bukankah nikmatnya makan adalah ketika sedang lapar-laparnya? Bukankah nikmatnya tidur adalah ketika sedang ngantuk-ngantuknya? Dan bukankah nikmatnya bertemu adalah ketika sedang rindu-rindunya? Intinya dalam tulisan ini adalah manfaatkan waktu sebaik-baiknya secara seimbang selagi kita semua masih sehat dan waras. Sesibuk atau selapang apapun kita jangan pernah lupakan kepada yang memberi waktu karena mumpung kita masih diberikan sehat, umur, kesempatan, tenaga, dan nikmat-nikmat yang lainnya. Sekian.

Oleh: Gilang Yudha Prakoso
Jakarta, 16 Februari 2018