Pasca rekapitulasi suara pemilihan umum legislatif, yang dipikirkan oleh partai politik (parpol) selanjutnya adalah meminang koalisi. Parpol yang memiliki perolehan suara terbesar, tentu cukup yakin untuk lebih mudah mendapatkan rekan koalisi. H+3 pemilu legislatif saja Partai Nasdem sudah mendeklarasikan dirinya untuk bergabung di kubu PDI-Perjuangan, kemudian disusul oleh PKB, dan yang terakhir bergabung adalah Partai Hanura. Total perolehan suara mereka bila digabung adalah 39,97 %, dengan jumlah kursi parlemen sebanyak 207 kursi. Sudah cukup modal untuk melewati syarat parliamentary treshold sebesar 20 %. Sedangkan Gerindra, memimpin koalisi dengan menggandeng PAN, PPP, PKS, PBB, dan Golkar. Modal suara yang cukup kuat dan kokoh bila dihitung dari total perolehan prosentasi suara. Total perolehan suara pemilu legislatif sebesar 48,93 % dan jumlah kursi parlemen sebesar 292 kursi. Dan Partai Demokrat lebih memilih untuk netral (tidak berkoalisi) dengan perolehan suara sebesar 10,19 %, dengan jumlah kursi parlemen sebanyak 61 kursi. Tentu semua partai politik telah mempertimbangkan koalisi secara realistis bukan idealis. Meski ada juga yang kepepet bergabung daripada tidak sama sekali.
Menyamakan platform parpol bukanlah sesuatu yang mudah. Ada mekanisme yang harus dijalankan sesuai AD/ART dan kesepakatan para kadernya. Namun, hal ini seringkali tak dipedulikan oleh parpol. Sehingga beberapa kader justru tarik barisan dan internal organisasipun ikutan terbelah. Koalisi tanpa syarat seperti yang diajukan PDI-P sepertinya hanyalah bualan di siang bolong. Bagaimana tidak, mesin partai politik lain yang sudah kerja keras berbulan-bulan untuk mendulang suara pada akhirnya merapat ke kubu pemenang pemilu. Omong kosong sepertinya ketika berbicara politik tanpa bagi-bagi kursi kekuasaan. Asumsi elit PKB yang tiba-tiba bergabung ke kubu PDI-P adalah hal yang tidak etis lantaran tidak disepakati oleh para pendukungnya. Hal ini, menurut saya hanya untuk mengamankan posisi Muhaimin Iskandar menjadi menteri lagi bilamana yang didukungnya memenangi politik. Di lain pihak, partai-partai islam yang lainnya justru memilih bergabung ke kubu Partai Gerindra. Harapan Amien Rais untuk membentuk koalisi Indonesia Raya yang jumlah suara partai islam yang suaranya bisa mencapai kurang lebih 32 % pun kandas, Dan pada akhirnya terbentuklah dua poros koalisi yaitu PDI-P, Nasdem, PKB, dan Hanura untuk sepakat mengusung Jokowi-JK. Dan poros koalisi lain yaitu Gerindra, PAN, PPP, PKS, dan Golkar.
Lagi-lagi Karena Figur
Perolehan suara partai politik memang cukup berpengaruh untuk bisa tidaknya mengusung Capres-cawapres. Namun, ada hal lain yang lebih penting yaitu figur. Suara partai yang tinggi bila salah mengusung figur, tentu hasilnya tidak akan maksimal. Begitupun sebaliknya, apabila figur yang diusung sesuai keinginan rakyat tentu hasilnya bisa saja maksimal. Saat ini yang telah mendaftar dan dinyatakan lolos verifikasi oleh KPU adalah pasangan Joko Widodo - Jusuf Kalla dan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa. Tapi mereka masih menyandang bakal calon presiden dan bakal calon wakil presiden karena KPU baru mengumumkan secara resmi pada tanggal 31 Mei 2014. Dan setelah penetapan tersebut baru memasuki masa kampanye mulai awal juni nanti.
Kontestasi belum dimulai, namun seolah bangsa kita seperti terbelah dua. Persaingan antar tim atau simpatisan dari dua pasang capres-cawapres tersebut sudah sangat terasa hawanya. Ada yang melalui media sosial, pamflet, propaganda, bahkan sampai fitnah yang saling menjatuhkan. Hal ini bukanlah budaya politik yang patut untuk dilakukan. Merebaknya kampanye negatif seolah mengadu domba antar kedua belah pihak makin tidak bermartabat, saling mengungkap keburukan, menyerangyang tak berdasar fakta dan bukti yang valid. Jelas itu merupakan bentuk kampanye hitam dan harus ditindak bagi siapapun pelakunya. Baik elite politik maupun massa politiknya. Bukan contoh yang bila emosi dan prasangka buruk yang dikedepankan, justru dapat membentuk sikap pesimisme dari masyarakat terhadap calon pemimpinnya nanti. Masih banyak cara dan metode yang bisa dilakukan untuk menjaring suara dan meyakinkan masyarakat, sudah saatnya fitnah dan kampanye hitam ditinggalkan. Selalu ada yang mengambil keuntungan dibalik itu, biasanya bangsa Indonesia menilai semakin dizhalimi justru semakin dipuji. Kebanyakan pemilih masih menggunakan perasaan daripada logika. Oleh karena itu, sangat penting pencerdasan politik untuk semua kalangan.
Rata-rata Terbelah
Seperti yang kita tahu, kedua pasang kandidat ini memiliki magnet yang cukup kuat untuk menghipnotis calon pemilih. Begitu halnya dilingkaran elite parpol maupun ormas. Kubu Rhoma Irama dan Mahfud MD, menarik dukungan dari PKB untuk mendukung Prabowo-Hatta. Harry Tanoesudibiyo mengundurkan diri dari jabatan Ketua Dewan Pembina Partai Hanura untuk bergabung ke Prabowo - Hatta. Ketua Pertimbangan Partai Nasdem, Rachmawaty Soekarnoputeri juga dikabarkan merapat ke Prabowo-Hatta. Begitu juga parpol-parpol yang lain pun turut terbelah di internal mereka untuk memilih kandidatnya. Selain itu ormas islam terbesar di Indonesia yaitu Nahdatul Ulama juga terbelah dua Ketua PBNU ke kubu Prabowo-Hatta dan wakilnya ke kubu Jokowi-JK. Dan kyai-kyai nya pun juga memiliki sikap politik yang berbeda-beda. Apakah rakyat senang dipertontonkan drama politik yang demikian? Demokrasi yang diharapkan substansial ditakutkan menjadi yang transaksional.
Media Sudah Tidak Independen
Pemilik media besar di Indonesia seperti Metro TV, TV One dan Indosiar, MNC, RCTI, dan Global TV sudah terjun di dunia politik. Dirasakan atau tidak hal ini sangatlah berpengaruh dalam penyajian pilihan beritanya. Sudah tidak peduli lagi yang namanya prinsip dan asas jurnalistik, yang terpenting adalah bagaimana membuat opini publik untuk memenangkan jagoannya masing-masing. Pembawa berita, pengisi berita, topik berita, dan lainnya sudah diatur sedemikian rupa untuk menggiring opini publik baik implisit maupun esplisit. Rakyat rindu media yang menghadirkan optimisme bangsa, mencerdasan bangsa bukan memberikan tayangan yang remeh untuk menyenangkan pemiliknya saja. Komisi penyiaranpun seolah tak punya daya dan upaya untuk mencegah tayangan tersebut, KPU juga bingung mau menindak dengan pasal berapa terkait kampanye terselubung di media. Rakyat harus lebih kritis dalam menilai media sekarang yang sudah jauh dari peran edukasi, informasi, hiburan, dan persuasi. Yang terpenting komersialisasi tayangan untuk politisasi menjelang Pilpres 2014. Polarisasi kompetisi yang sehat adalah harapan kita semua untuk menyongsong calon pemimpin baru.
Pilih Dengan Logika
Kurang lebih satu setengah bulan lagi pemilihan presiden 2014 akan segera berlangsung. Kandidatpun sudah ada, meskipun tak seramai pilpres-pilpres sebelumnya. Mungkin inilah kandidat terbaik pilihan bangsa Indonesia. Proses demokrasi yang sehat dan cara mencari pemimpin dengan cara pemilihan langsung oelh rakyat adalah cara yang bijak untuk saat ini. Saat ini yang kami nantikan adalah pertarungan gagasan dan visi-misi Capres-cawapres untuk kemajuan Indonesia mendatang. Menjalankan amanat konstitusi dan menjalankan cita-cita kemerdakaan adalah hal yang mutlak dipikirkan oleh semua kandidat. Tinggalkanlah segala bentuk kampanye negatif dan kampanye hitam. Jangan sampai bangsa Indonesia menjadi terpecah-belah hanya masalah perbedaan sikap politik. Cara bermartabat dan penuh harga diri untuk mewujudkan Indonesia Hebat dan Indonesia Raya. Kita semua harus memulai memilah dan akhirnya memilih yang terbaik dengan logika yang sehat bukan dengan emosi. Rakyat Indonesia rindu dengan karakter bangsa yang menonjol dan membawa harum mewangi di kancah Internasioanl. Bukan bangsa yang bermental tempe dan kedaerahan. Kemajemukan justru menjadi modal yang kuat untuk mempersatukan seluruh Rakyat Indonesia. HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA!
Hasil kontemplasi ditengah kegelisahan dan kegaduhan politik!
Oleh : Gilang Yudha Prakoso
Wednesday, May 28, 2014
Monday, May 12, 2014
K3L: Upah Minimal, Kerja Maksimal
Latar Belakang
Peringatan
Hari Buruh Internasional, juga diperingati oleh ribuan bahkan jutaan buruh di
Indonesia. Melalui Keppres Nomor 24 Tahun 2013, Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono resmi menetapkan 1 Mei sebagai hari libur nasional. Hal tersebut,
seperti yang dijanjikan Presiden SBY kepada para buruh setelah sebelumnya
melakukan kunjungan ke bebeapa daerah untuk menemui para buruh. Selain itu, ini
merupakan salah satu realisasi pemerintah atas tuntutan buruh yang menginginkan
bahwasanya tanggal 1 Mei diliburkan untuk menghormati para kaum pekerja. Kurang
lebih 80 negara di dunia telah menetapkannya sebagai hari libur, sedangkan di
ASEAN, Indonesia menjadi negara kesembilan yang telah menetapkan 1 Mei sebagai
hari libur nasional. Hari buruh yang sering kita sebut May Day, selalu saja menjadi hal yang menarik untuk diikuti.
Pasalnya, hampir dipastikan selalu ada demostrasi atau aksi tuntutan para buruh
di seluruh dunia khususnya di Indonesia. Tuntutannya bermacam-macam, ada yang
meminta dinaikkan UMR, kesejahteraan keluarga, jaminan kesehatan, keselamatan
kerja, dan lain sebagainya. Namun, dalam kasus ini saya tidak menganalisi lebih
jauh tentang buruh.
Bila dikaitkan dengan permasalahan
buruh, di kampus Universitas Padjadjaran (unpad) juga memiliki puluhan bahkan
ratusan pekerja yang menggantungkan hidupnya dengan pihak kampus. Diantaranya
adalah sentinel, office boy, K3L, dan
lain sebagainya. Merekalah orang-orang yang berjasa untuk menjaga keamanan dan
kebersihan di lingkungan kampus Unpad. Dalam tulisan ini, penulis akan
memfokuskan untuk membahas K3L. Sebelumnya, tepat pada tanggal 1 Mei 2014 HIMA
Ilmu Pemerintahan FISIP UNPAD mengadakan acara National Governance Days 2014.
Salah satu rangkaian acaranya adalah pendidikan politik untuk K3L, tepatnya di
arboretum. Teknisnya para delegasi dari beberapa universitas dibagi kedalam
beberapa kelompok K3L, mereka melakukan diskusi langsung terkait harapan dan
nasib para K3L. Cara ini bisa dikatakan efektif untuk mendengar langsung
keluhan dari para pekerja, apalagi medianya adalah mahasiswa. Yang diharpakan
sebagai penyambung lidah antara K3L kepada rektorat ataupun negara. Sebab, ada
ketakutan tersendiri yang K3L rasakan apabila memprotes pihak rektorat secara
langsung.
Permasalahan
Kurang
lebih di Unpad memiliki empat ratusan pekerja K3L yang terbagi kedalam delapan
zona. Masing-masing zona terdiri dari lima puluh orang. Waktu kerja dari jam
tujuh pagi sampai jam empat sore. Sebagaimana mestinya buruh-buruh diluar sana,
para pekerja K3L juga menuntut kesejahteraan kepada pihak kampus. Diantaranya
adalah:
1. Gaji
per bulan hanya 650 ribu rupiah
Bila
dibandingkan dengan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Sumedang tahun 2014 sebesar Rp
1.735.473.000 sangat jauh sekali perbandingannya dengan gaji yang didapatkannya
selama satu bulan.
2. Dapat
potongan 50 ribu per bulan
Dengan
nominal gaji yang sedikit masih mendapatkan potongan sebesar 50 ribu dan ketika
penulis tanyakan, uang tersebut untuk THR Lebaran. Namun, menurut ibu-ibu K3L
tidak pernah mendapatkannya.
3. Dipotong
30 ribu sehari bila tak masuk
Namanya
manusia apalagi usianya yang sudah tidak fit lagi tentu tidak akan mengalami
kondisi fisik yang selalu sehat. Terkadang mereka juga mengalami sakit yang
mengharuskan istirahat di rumah. Namun, para K3L ini justru mendapatkan
potongan sebesar 30 ribu rupiah per hari bila mereka tak masuk kerja.
4. Tidak
mendapatkan jaminan kesehatan
Kerja
penuh hampir tiap hari dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore, dengan tugas yang
menguras tenaga akan tetapi tidak mendapatkan jaminan kesehatan. Dengan gaji
yang sedikit, mereka musti mengeluarkan biaya sendiri untuk berobat.
5. Tidak
ada jatah beras
Pernah
suatu ketika para pekerja K3L mendapatkan beras dari rektorat, beras tersebut
berasal dari mahasiswa baru ketika prosesi penerimaan PRABU. Beras tersebut
tertahan di pihak rektorat sekitar 3 bulan, dan baru dibagikan kepada K3L.
Alhasil K3L tersebut mendapatkan beras yang sudah ada kutunya dan rusak karena
terlalu lama tidak segera digunakan.
6. Dilarang
makan atau minum ketika waktu kerja
Dalam
bekerja yang mengandalkan kekuatan fisik tentu akan mudah mengalami rasa lelah.
Haus dan dahaga tentu akan dirasakan bilamana bekerja terus-menerus. Akan
tetapi mereka dilarang dan mendapatkan ancaman akan dilaporkan kepada rektorat
oleh mandornya. Dan mereka pun harus sembunyi-sembunyi dalam melakukan hal
tersebut.
Solusi atau Gagasan
Terkait
permasalahan-permasalahan yang dirasakan dan dialami oleh para pekerja K3L,
tentu sebagai mahasiswa Unpad kita perlu mengupayakan memperjuangkan nasib dan
hak yang musti mereka dapatkan. Beberapa solusi yang bisa mahasiswa berikan,
menurut penuilis ialah:
1. Menjadi
penghubung dengan pihak rektorat
Advokasi
dari mahasiswa untuk menyampaikan uneg-uneg
K3L harus ditingkatkan kualitas dan intensitasnya. Terkadang kita menuntut
bermcam hal diluar, tapi ketika melakukan kajian dan advokasi lemah. Selain
itu, juga perlu diadakan fasilitas untuk K3L supaya bisa dpertemukan dengan
pihak rektorat.
2. Tingkatkan
gaji
Tentu
hitung-hitungan gaji bukanlah perkara yang mudah. Upah tersebut juga
disesuaikan dengan kondisi finansial kampus. Akan tetapi apabila rate nya dibawah standar yang telah
ditetapkan UMK Sumedang, ini menjadi hal yang ironis bagi kita. Bila
dibandingkan dengan kampus tetangga upah untuk pekerja kebersihan didalam
kampus sudah mencapai 1,5 juta rupiah per bulan, sedangkan yang diluar pagar
sebesar 1,2 juta rupiah. Faktanya ada selisih upah yang begitu jauh dengan
jenis pekerjaan yang sama dan di wilayah yang sama.
3. Hapuskan
pungutan-pungutan
Dengan
gaji yang sedikit dan dituntut dengan pekerjaan yang banyak. Seharusnya kita
harus lebih manusiawi dalam memperlakukannya. Hilangkan dan hapuskan potongan
atau pungutan dari K3L, karena hal tersebut sangatlah merugikan dan tidak
manusiawi.
4. Beri
tunjangan
Meskipun
kondisi finansial pihak kampus yang terbatas untuk memberi gaji kepada K3L.
Tapi memberikan tunjangan juga perlu diberikan sebagai bentuk apresiasi.
Dananya mungkin bisa didapatkan dari kerjasama dengan beberapa perusahaan di
sekitar kampus, dengan dana CSR.
5. Berikanlah
jaminan kesehatan dan jatah beras tiap bulan
Dalam
instansi pemerintah ataupun perusahaan biasanya ada jaminan kesehatan dan
tunjangan beras untuk pegawai atau karyawannya. Kesehatan menjadi prioritas
untuk semua pekerja, oleh karena itu pihak kampus juga harusnya memberikan
jaminan tersebut untuk para K3L.
6. Tingkatkan
peran kepedulian mahasiswa untuk K3L
Salah
satunya program kerja dari kementrian PKM BEM KEMA UNPAD, yang mengadakan
sehari bersama K3L. Mahasiswa bertindak sebagai K3L untuk bersih-bersih kampus.
Meskipun hal sederhana namun bisa meringankan beban pekerja K3L. Selain itu,
kerjasama dari semua mahasiswa untuk turut menjaga lingkungan supaya tetap
bersih dan asri.
Kesimpulan
Peringatan hari buruh jangan hanya dirayakan
secara seremonial saja. Ada yang lebih penting yaitu meningkatkan kesejahteraan
para pekerja. Dalam kasus ini, tak perlu rasanya kita melakukan aksi
demonstrasi yang menuntut pemerintah dengan aksi anarkis. Tak usah jauh-jauh ke
Jakarta atau tempat-tempat strategis lainnya untuk melakukan demonstrasi dengan
mengatasnamakan serikat buruh. Akan tetapi ada hal yang lebih nyata di depan
mata kita untuk memperjuangkan nasib pekerja kebersihan ata biasa disebut K3L
di lingkungan kampus Unpad. Menjalin komunikasi dan advokasi yang baik dengan
berbagai elemen perlu ditingkatkan untuk menjamin peningkatan kesejahteraan
para pekerja. Mereka juga manusia yang memiliki kebutuhan hidup untuk dirinya
dan keluarga. Dan merekapun juga punya harga diri. Oleh karena itu, harapannya
semua pihak atau elemen di lingkingan kampus Unpad untuk turut bersama-sama
memperjuangkan kebutuhn hidup mereka. Mahasiswa bisa melakukan banyak hal, tak
hanya kritik dan protes saja, namun aksi dan kontribusi nyata lebih dibutuhkan.
Oleh: Gilang Yudha Prakoso
Kajian Strategis BEM KEMA UNPAD
Subscribe to:
Posts (Atom)