"Sudah jangan ke Jatinangor. Ia sudah ada yang punya. Lebih baik diam disini. Temani aa bernyanyi disini." -The Panas Dalam
Rasanya baru kemarin, merasakan kuliah dan menikmati hawa sejuknya Jatinangor. Ternyata suasana itu sudah lewat bertahun-tahun yang lalu, tapi memori tidak akan hilang dari kepala. Tentu setiap orang pasti punya kenangannya masing-masing untuk kota yang pernah ditinggalinya. Tuhan pasti punya maksud kenapa kita ditempatkan di suatu kota tertentu dan kita mencari tahu untuk menemukan jawabannya. Bicara soal Jatinangor banyak yang bisa diceritakan tapi pada intinya kota ini bagi saya adalah tempat untuk belajar soal kehidupan. Berbagai pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh akan memperluas perspektif kita untuk memandang sangkaan apapun. Jauh dari orang tua menjadi latar belakang bagi mahasiswa-mahasiswi untuk belajar bertanggung jawab, setidaknya pada diri sendiri. Beragam masalah yang dihadapi tersebut justru dapat merubah karakter yang tadinya manja menjadi lebih mandiri, yang tadinya masih kekanak-kanakan menjadi lebih dewasa, dan yang tadinya hanya memikirkan diri sendiri bisa lebih peduli kepada orang lain. Sebagian besar mahasiswa perantauan tentu akan menghabiskan masa mudanya disini setidaknya selama 4 tahun. Waktu adalah sesuatu yang mutlak karena tidak akan elastis atau fleksibel ukurannya, tapi terkadang kita merasa waktu berjalan lambat atau cepat seperti yang pernah kita rasakan.
Kehidupan ala Jatinangor
Kehidupan di Jatinangor bagi saya termasuk wajah realita yang tergolong sederhana. Mahasiswa dan masyarakat dapat saling membaur. Keterbatasan tempat hiburan justru membuat para mahasiswa berinteraksi lewat cara lain. Pokoknya kalau pas ngerasain jadi mahasiswa cuma KUPU-KUPU atau kuliah pulang-kuliah pulang rasanya rugi sekali. Meskipun hawa di Jatinangor itu CAKUNG (Cuaca Mendukung) buat ena'-ena' (maksudnya tiduran! hahaha) tapi gak ada salahnya untuk nyobain berbagai kegiatan yang bisa menumbuhkan sensivitas pada sekitar kita. Dulu jaman saya masih kuliah di Unpad, arus informasi belum semasif sekarang, jadi para mahasiswa masih pada suka diskusi bareng, aksi bareng, nongkrong bareng, olahraga bareng, dan lainnya. Tapi sekarang jamannya era digital para mahasiswa lebih seneng ketwa-tewa depan smartphone dari pada ketawa bareng temen-temennya. Selain itu, karena rata-rata lingkungan indekos atau pondokan mahasiswa ini berada di lingkungan masyarakat sekitar jadi memudahkan juga para mahasiswa untuk berbaur dengan kerja bakti, mengajar ngaji, olahraga, dan kegiatan sosial lainnya. Meskipun pasti banyak juga mahasiswa yang apatis dan lebih memilih bergaul dengan teman-teman kuliahnya saja.
Lokasi: Taman Ilmu, Desa Sukawening, Jatinangor
Lokasi: Jonas Photo Jatinangor
Di sana juga sering banget kita lihat mahasiswa naik motor bonti (bonceng tiga) atau cenglu (bonceng tilu) untuk ke kampus atau pulang ke kosan. Meskipun juga sering nglewatin polsek dan poslantas, untungnya polisi nggak ada yang mau nilang kecuali pas ada razia kelengkapan. Di Jatinangor juga terkenal dengan mahasiswa nya yang cantik-cantik terutama di Unpad, bahkan menjadi incaran mahasiswa-mahasiswa dari kampus lainnya. Tapi mahasiswanya juga nggak kalah keren-keren donggg hehehe. Pada siang hari rutinitas mahasiswa berlangsung cukup normal, mahasiswa berangkat ke kampus ada yang pakai kendaraan pribadi, naik angkot, naik odong-odong bahkan tak sedikit juga yang memilih berjalan kaki. Selain kuliah di dalam kelas, mahasiswa pun banyak yang memilih ke kampus untuk nongkrong dengan teman-teman di kantin, atau diskusi soal kondisi bangsa negara, dakwah untuk ummat, rapat dengan organisasinya, kumpul bareng temannya yang sehobi di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) atau untuk bertemu pacarnya di kampus. Semua itu adalah pilihan dan tiap manusia berhak untuk memilih mana yang disukai. Namun yang jelas, semua itu memiliki kenangannya masing-masing yang bisa diceritakan untuk masa depan kepada anak cucu nya nanti atau sekedar sharing ke teman-teman lain yang berbeda kota.
Untuk biaya hidup di sini, bagi saya relatif sedikit mahal kalau dibandingkan kuliah di Jogja, Semarang, Solo, Purwokerto, Malang ataupun Surabaya. Mungkin karena letaknya tidak jauh dari Bandung dan Jakarta jadi harganya pun juga menyesuaikan. Tapi tenang saja, untuk tempat makan banyak sekali pilihan yang murah dan porsi banyak pasti jadi favorit para mahasiswa. Untuk sewa tempat tinggal biasanya kalau di Jatinangor itu bayarnya tahunan, mulai dari 4 jutaan sampai puluhan juta per tahun ada disana. Pilihannya ada indekos, rumah kontrakan, atau apartemen bisa digunakan untuk para mahasiswa yang jauh dari orang tua.
Yang dirindukan
Bagi yang hobi fotografi, banyak spot-spot menarik juga untuk hunting foto. kalau untuk tema alam bisa main ke kiara payung, bukit panorama, lingkungan kampus unpad, atau persawahan dekat jembatan cincin. Kalau untuk tema pedesaan bisa menelusuri Desa Jatiroke, Cileles, Sukawening dsb. Kalau yang hobi hiking bisa nyoba naik gunung ke Gunung Manglayang atau Gunung Geulis. Makanan pesan antar atau delivery yang sangat membantu mahasiswa yang dilanda kelaparan di saat mager. Warung dan cafe yang jadi tempat kongkownya para mahasiswa juga terbilang cukup asyik. Suasana lingkungan kampus di sekitar Gerlam Unpad, FISIP, FIKOM, FIB, Rektorat dan sudut-sudut kampus lainnya yang tiap mahasiswapun juga punya kenangannya masing-masing. Jangan salah di Jatinangor pun seringkali ada Pensi atau konser-konser dari musisi-musisi terkenal di tanah air. Selain itu juga sering kedatangan tokoh-tokoh nasional untuk sekedar memberikan kuliah umum atau mengisi seminar. Film-film di bioskop 21 Jatos pun tergolong update dan harganya pun terjangkau buat kalangan mahasiswa. Toko-toko buku dengan harga miring pun juga banyak yang ditawarkan.
Kalau mau lebih disederhanakan yang paling dirindukan dari Jatinangor adalah soal suasana kampus, kesejukan udaranya, makanan, mahasiswi-mahasiswi geulis, dan kesederhanaan yang apa adanya. Seringkali kita mendengar istilah bahagia itu sederhana. Tak harus mahal, kalau kita ketemu orang pas, saat yang tepat, dan tempat yang enak pasti perasaan kita akan bahagia. Sayang rasanya kalau selama kita menghabiskan masa muda tidak bicara soal cinta. Karena cinta lah kita bisa belajar memahami orang lain dan membuat hidup kita menjadi lebih berwarna. Barangkali banyak juga teman-teman yang menemukan pasangannya atau jodohnya di Jatinangor, entah dari teman kampus, organisasi, atau teman nongkrong. Kenangan bersama kekasih pujaan hati atau gebetan di kala kuliah pasti akan membekas di memori bagi kita yang pernah merasakannya. Atau barangkali di Jatinangor pulalah kita menemukan partner bisnis atau sahabat-sahabat terbaik yang akan terus terjalin sampai tua nanti.
Lokasi: Kiara Payung, Jatinangor
Lingkungan kampus adalah laboratorium untuk berlatih menghadapi kehidupan yang sebenarnya. Banyak juga dari teman-teman yang awalnya kuliah di Jatinangor ini merasa terdampar karena jauh dari peradaban, jauh dari hingar bingar hiburan, dan jauh dari pusat kota. Tapi akhirnya, justru kuliah di Jatinangor menjadi sebuah kesyukuran yang tiada terkira bila kita ikhlas dan menikmatinya dengan pikiran yang positif. Ada yang bilang salah satu fase kehidupan paling indah adalah ketika masa kuliah. Kita belum terlalu memikirkan masa depan lebih jauh, karena yang kita tahu adalah belajar, bermain, berorganisasi, dan pada dasarnya secara finansial kita masih ada yang menanggungnya. Tentu semua itu bagian dari proses untuk belajar tanggung jawab dan menuju pendewasaan diri. Semua pengalaman dan pengetahuan selama masa kuliah akan menjadi bekal untuk masa setelahnya. Dan kini, aku, kamu, Jatinangor sedang jauh, tapi percayalah akan selalu dekat di hati. Bukankah yang membuat rindu itu berarti karena jarak yang memisahkan? Dan bukankah nikmatnya bertemu adalah ketika sedang rindu-rindunya? Dan semoga kerinduan ini bukan hanya sekedar mimpi :)
Terakhir, kalo rindu Jatinangor dan pengen mengenang suasananya bisa saksikan beberapa film yang syuting di sana diantaranya: Film Jomblo karya Hanung Bramantyo, Film Mau Jadi Apa? Karya Soleh Solihun, dan Film Ma'rifat Cinta
-GYP-
Buka juga cerita yang lainnya: http://geyepe.blogspot.co.id/2014/01/kota-kecil-bernama-jatinangor.html



No comments:
Post a Comment