Wednesday, March 14, 2018

JANGAN ADA BENCI DI ANTARA KITA



Dewasa ini, kita sering ditunjukkan ketidakadilan, permusuhan, dan kebencian menyebar kemana-mana. Apakah tidak lelah energi dalam hidup kita terbuang sia-sia untuk hal yang demikian? Jawabannya tentu sia-sia, akan tetapi masih banyak orang yang melakukannya. Bukankah Tuhan kita, Allah SWT Sang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang? Dalam surat Al-Fatihah sebagai surat pembuka dan sebagai ibu dari surat-surat yang ada di Al-qur’an sampai ditegaskan sebanyak dua kali bahwa Tuhan sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Faktanya saat ini kita melihat kebencian meyebar kemana-mana, ada yang soal SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan), putus hubungan dengan kekasih, perbedaan pendapat, perbedaan preferensi politik, perbedaan mahzab, perbedaan status sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Benang merahnya yang menjadi awal kebencian adalah perbedaan itu sendiri. Padahal perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan keniscayaan itu lebih tinggi dari pasti. Artinya perbedaan ini pasti akan selalu ada karena Tuhan kita telah menentukannya tidak akan ada yang sama di alam semesta ini.
Perbedaan ini, kalau kita resapi dengan bijak justru memberikan warna dan motif yang indah, karena Tuhan pun mencintai keindahan. Coba bayangkan apabila di alam semesta ini hanya ada satu warna atau monokrom, sudah barang tentu sangatlah monoton dan membosankan untuk dipandang. Ketika hujan lebat berhenti, lalu muncul matahari yang mencerahkan secara perlahan kita bisa menyaksikan pelangi yang memiliki aneka warna yang berbeda namun dapat saling bersanding dengan mesra. Apabila kita sanggup menikmati perbedaan itu justru rasanya sangat indah. Mungkin saat ini, manusia banyak yang mengalami krisis cinta karena benci adalah malpraktik dari cinta. Padahal kalau kita semua mafhum, betapa nikmatnya mencintai daripada dicintai, nikmatnya berbagi daripada dibagi, dan mungkin kalau harus memilih lebih enak dibenci daripada membenci. Karena benci itu sendiri merupakan salah satu bagian dari penyakit hati. Rasanya perih apabila terus tumbuh dan berkembang mengisi celah hati kita.
Berbagai konflik di dalam negeri maupun mancanegara rasanya tidak akan pernah terselesaikan apabila tidak menggunakan pendekataan cinta dalam upaya mengatasi perselisihan. Dua kubu akan saling dihadapkan terus menerus untuk berseteru, jauh dari kata damai. Pemimpin-pemimpin dunia belum sanggup mengupayakan perdamaian apabila masih mementingkan ego pribadi. Rasanya perdamaian yang sejati menjadi utopis yang entah kapan akan dapat terwujud sebelum kiamat. Beberapa konflik horizontal dan komunal yang pernah terjadi di Indonesia ada yang mencapai kesepakatan damai, salah satunya di Aceh. Akan tetapi yang berujung konfrontasi dan pertikaian secara statistik angkanya jauh lebih lebih besar. Apalagi bila kita melihat konteks secara internasional yang melibatkan antar negara dan sekutu.
Salah satu konflik yang sampai detik ini belum ada resolusi damai adalah di Timur Tengah, salah satunya yang paling sering kita sorot adalah Palestina dan Israel, meskipun sebenernya negara-negara di Timur Tengah yang secara wilayah terbagai antara Asia bagian barat dan Afrika bagian utara jumlahnya juga sangat banyak. Entah konspirasi global, persaingan dagang, perebutan pengaruh dagang dan kekuasaan, serta masih banyak faktor-faktor lainnya. Bantuan materi dan non materi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), organisasi-organisasi internasional, koalisi antar negara, maupun dari berbagai penduduk dunia belum mampu memadamkan api konflik tersebut. Terkadang justru menyulut api ke berbagai sektor kehidupan dan masyarakat yang ikut tersinggung. Lantas apabila memang Israel dicap jahat, apakah kita harus membencinya? Lantas apabila Yahudi kejam, apakah kita juga harus membencinya?
Lebih lanjut lagi, perbedaan sesama Agama Islam antara Sunni dengan Syiah, antara ekstrimis dengan moderat, antara budaya dengan agama saat ini masih sering terjadi perselisihan. Bahkan sesama umat muslim pun sebagian justru saling membenci, berkelahi, dan bermusuhan untuk mati-matian membenarkan yang mereka anut dan menyalahkan yang lainnya. Kita hakim apalagi Tuhan yang bisa memvonis antara benar dan salah. Kita hanyalah manusia yang berhak memnentukan pilihan masing-masing yang akan kita anut sesuai dengan keyakinan kita. Padahal awal dan akhir semuanya sama, hanya prosesnyalah yang semua memiliki caranya masing-masing.
Contoh yang lainnya yang masih hangat kita rasakan di blantika perpolitikan tanah air. Polarisasi antara pendukung Ahok dan Anies masih sangat jelas kita lihat. Persoalan awalnya pasti perbedaan yang tidak bisa diterima satu sama lain. Apabila pendukung Ahok menghina Anies dengan keras, tetapi apabila Ahok yang dihina mereka tidak terima. Begitupun kubu sebaliknya. Apapun kebijakan atau program yang dilaksanakan pasti ditolak dan di caci maki. Dunia nyata maupun dunia maya sama saja pengaruh negatifnya apabila sikap kita selalu dilandasi kebencian untuk memandang sesuatu. Kedewasaan dan kematangan untuk meiihat perspektif masih sangat sempit, dangkal, dan pendek. Pemimpin kita sudah memberikan contoh dan keteladanan untuk mempersatukan perbedaan tersebut, akan tetapi apabila pendukungnya masih belum menerima kedamaian itu hanyalah sebuah harapan.
Tuhan pun berfirman, apa yang kita anggap baik belum tentu itu baik bagi kita dan apa yang kita anggap buruh belum tentu itu buruk bagi kita, sungguh Tuhan Maha Mengetahui Segalanya. Mungkin sebagian dari kita ada yang masih sulit untuk menerima segala macam perbedaan. Barangkali sebagian dari kita juga masih banyak yang ingin untuk menghina apa yang tidak kita suka. Tapi upayakan dan latihlah dari sekarang untuk tidak dilandasi dengan rasa benci. Karena benci kita tidak bisa menilai sesuatu dengan objektif dan tepat, karena apa yang kita nilai tersebut pasti subjektif dan tidak murni. Bahkan Rasulullah SAW pun selalu melihat segala objek dengan sisi yang positif. Sejatinya dari kita lahir sampai kanak-kanak kita tidak memiliki naluri untuk membenci, hanya cinta dan bahagia yang saling dibagi. Kadangkali kita perlu belajar dari kemurnian anak-anak tersebut sebagai bahan refleksi. Sungguh betapa indahnya apabila kita semua memili kasih, saying, dan cinta yang akan melunturkan segala noda yang menempel pada kain putih. Dan pada akhirnya kita bisa menemukan kedamaian yang sejati ketika seluruh manusia bisa saling menerima dan mencintai satu sama lain. Sekian.

Jakarta, 4 Maret 2018
-GYP-


Tuesday, March 6, 2018

MEDIA MASSA ZAMAN NOW ANTARA IDEALISME DAN PRAGMATISME



Salah satu pilar dalam demokrasi yang selalu diperjuangkan adalah kebebasan pers. Bila berbicara mengenai pers, maka akan selalu berhubungan dengan media massa. Saat ini kita mengenal dengan media cetak dan media digital (online). Dalam perkembangannya, media massa sangat memengaruhi sejarah dari masa ke masa, baik masa lalu, masa kini, dan masa depan. Lebih dari itu media massa juga memiliki andil untuk memengaruhi pola pikir dan kecenderungan kita dalam melihat peristiwa. Bahkan banyak sekali wawasan dan pengetahuan mengenai apa saja yang terjadi di dunia seperti politik, sosial, budaya, ekonomi, olahraga, hukum, gaya hidup, dan lain sebagainya yang sumbernya kita dapat dari media massa. Dengan demikian, media massa menjadi salah satu narasumber utama kita untuk memutuskan sesuatu.
Saat ini, di Indonesia banyak sekali bermunculan media massa, baik cetak maupun digital. Keduanya sama-sama memberikan sajian berita dan peristiwa yang dapat kita konsumsi setiap hari. Materi berita yang diangkatpun berbagai macam topiknya, terutama mengenai peristiwa yang sedang hangat atau menjadi perhatian publik. Keotentikan fakta dan data harus menjadi kekuatan primer dalam menyajikan berita. Isu-isu yang diangkatpun memiliki kemungkinan untuk menguntungkan atau merugikan pihak-pihak tertentu. Apakah hal tersebut mungkin terjadi pada media massa di Indonesia? Jawabannya tentu sangat mungkin terjadi, bahkan banyak terjadi soal manipulasi fakta dan diskretisasi pihak tertentu. Alasannya sangat variatif, tidak hanya karena perbedaan kepentingan politik dan ekonomi, namun juga karena perbedaan ideologi, idealisme, dan kehendak-kehendak lain yang sifatnya bisa materistik maupun non materialistik.
Masalah kualitas atau kuantitas
Ada beberapa hal yang perlu dikoreksi dari penyajian berita pada media massa di Indonesia saat ini. Pertama, dalam media online, demi mengejar viewer atau rating sebagian media melacurkan dirinya untuk memproduksi berita yang kurang berkualitas. Bahkan sering terjadi antara portal berita A dan B atau lainnya memiliki redaksional dan isi yang sama persis. Walaupun apabila narasumber atau tema isu yang diangkat sama, tapi tidak seharusnya juga produksi yang dijual sama. Entah plagiarisme, imitasi, atau menjiplak tetap saja menjadi hal yang miris apabila hal tersebut masih dipertahankan tanpa melihat kaidah-kaidah jurnalistik. Pengawasan redaktur dan editor terhadap reporter atau penulis berita mungkin sangat lemah.
Kedua, media massa masih banyak yang beropini sangat subjektif bukan kritas dalam mengolah isu yang berkembang. Adu domba dan stigma negatif selalu ditonjolkan untuk menjadi produk jualan berita. Bad news is a good news, mungkin istilah tersebut sangat cocok menggambarkan kondisi media massa saat ini. Betapapun ada aturan main yang menyatakan “berita tak boleh beropini” tetap saja memilih opini dalam pemberitaan yang seolah-olah tidak beropini. Barangkali kegaduhan sengaja dimunculkan supaya negeri kita tetap ramai dengan pemberitaan-pemberitaan yang mengejar kuantitas, soal kualitas belakangan. Selain itu, cover both side dalam kaidah jurnalistik sering dikesampingkan sehingga memuat berita yang berat sebelah terutama dalam perbandingan.
Apabila sebuah media massa baik cetak maupun digital demi kapitalismenya selalu mengekspos segi-segi sensasional, hoax, rekayasa, dan fitnah dari suatu bahan berita, sesungguhnya ia telah melakukan semacam ketidakadilan dalam memaparkan keadaan yang sebenarnya terjadi. Pada kondisi seperti itu, kita sangat membutuhkan media massa yang bisa mengekspos hal yang sama, tetapi dengan angle-angle pengambilan yang lebih objektif, seimbang, dan sehat.
Netralitas semu
Tentu kita semua tahu bahwa media massa yang ada di Indonesia tersebut merupakan milik dari sebagian konglomerat-konglomerat yang memiliki pengaruh yang sangat besar. Kelompok-kelompok tersebut memiliki peran dan pengaruh untuk menggenggam kepentingan politik tertentu, sehingga dampaknya antara mendukung-tidak mendukung bagi pihak-pihak tertentu. Pihak-pihak tersebut bisa berbagai kalangan baik dari level penguasa, pengusaha, dan masyarakat lainnya. Persoalan media massa di seluruh dunia pada umumnya ada dua hal. Pertama, kepentingan kapitalisasi berita, yaitu terjadi ketimpangan objektivitas  atas keutuhan dunia manusia. Kedua, garis politik dan ideologi yaitu kepentingan korporasi berita menetukan warna dan cara mereka merespon persoalan.
Pemilik kepentingan senantiasa memanfaatkan media massa sebagai alat jualan pengaruh mereka. Sasaran atau target pasarnya sangat luas dan sangat mungkin terjadi bisa menjadi instrumen yang efektif untuk mempengaruhi dan dipengaruhi. Netralitas menjadi wacana mahal dalam upaya penyajian berita yang berkualitas. Kita cenderung mengenal berita berdasarkan versi dari media bukan fakta yang sebenarnya terjadi. Opini publik dengan opini pembuat berita seringkali berbeda. Dahsyatnya kekuatan media massa atas pembentukan watak dan opini masyarakat itu kalau kata Cak Nun bagaikan sihir. Dan kalau kita tersihir, kita pasti tidak tahu dan tidak sadar bahwa kita tersihir. Sebagian pemilik media massa seolah terjerumus untuk harus terjun dalam konteks pro kekuasaan atau kontra kekuasaan yang ujung-ujungnya adalah perluasan kapitalisme. Kecenderungannya mengikuti arah pemilik media untuk menentukan posisi tertentu. Tentu bukan itu yang diharapkan kita sebagai konsumen utama media massa. Pemberitaan yang objektif, seimbang, dan sehat dengan mengandalkan rasionalitas dan hati nurani menjadi dambaan kita semuanya.
Perubahan zaman dan metode pemberitaan boleh saja terjadi, tapi kekuatan integritas dan profesionalitas insan pers sangat dinantikan. Suka tidak suka dan setuju tidak setuju kita masih membutuhkan media massa untuk menambah wawasan dan pengetahuan kita. Walaupun bukan satu-satunya alat, tapi media massa sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, ke depan Dewan Pers Indonesia dan Komisi Penyiaran Indonesia diharapkan meskipun sulit untuk mengawasi media massa yang ada di Indonesia dengan profesional. Dengan demikian, masyarakat luas mengetahui informasi publik atau berita yang aktual bukan justru menambah kebencian atau memecah belah seperti yang terjadi saat ini.

Oleh: Gilang Yudha Prakoso
Jakarta, 19 Februari 2018


KOMUNIKASI YANG SEUTUHNYA



              Salah satu ilmu tertua di muka bumi adalah ilmu kmunikasi. Sejak lahir kita memiliki naluri dan intuisi untuk bisa berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Berbagai macam bentuk dan gaya komunikasi yang pada intinya untuk membuat mengerti. Seperti halnya anak bayi yang menangis untuk memberi kode kepada ibunya bahwa ia meminta pertolongan kepada ibunya dan masih banyak contoh yang lainnya. Komunikasi itu sebenernya sebuah tindakan yang gampang-gampang sulit dan sulit-sulit gampang. Semua itu tergantung pada situasi, bahasa yang digunakan, dan konteks yang dibicarakan, lebih lanjut dari itu latar belakang komunikasi, latar belang komunikan, dan latar belakang komunikator yang akan saling berhubungan satu sama lain. Orang ahli komunikasi dan pakar komunikasi sekalipun belum tentu mahir berkomunikasi dengan berbagai elemen atau lapisan level masyarakat.
            Dalam cerita para nabi terdahulu, yang paling terkenal mahir berkomunikasi adalah Nabi Sulaeman, beliau mampu berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Beliau tahu persis bagaimana gerak gerik daun di pepohonan, gelagat para jin, arah kemana kumbang akan mencari bunga, dan masih banyak yang lainnya. Keahlian komunikasi oleh berbagai macam makhluk tersebut yang tidak dimiliki oleh siapapun. Seperti halnya dokter yang paham dengan penyakit pasiennya, psikolog yang paham dengan sorot mata, gerak tubuh, dan kerut di kening kita, sebagaimana pelatih mengerti detil bakat dan perkembangan para atletnya, sebagaimana sosiolog yang paham terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat, serta masih banyak contoh yang lainnya. Dalam hal ini, Nabi Sulaiman sangat komplit dalam hal penguasaan komunikasi, baik secara syariat maupun hakikat. Tentu aktivitas berkomunikasi memiliki bermacam-macam bentuk dan metode. Pada dasarnya komunikasi adalah dialog antara komunikator dengan komunikan dengan maksud dan pesan yang saling dipahami. Bisa melalui kode-kode, bahasa verbal, gerak, dan lainnya yang sama-sama disepakati.
            Dalam komunikasi terdapat banyak bahasa yang dapat digunakan: pandangan mata, mimic wajah, gerak tubuh, kode-kode, dan komunikasi sunyi. Secara umum dan luas, kita mengenal berbagai metode-metode dalam penguasaan komunikasi, yaitu: verbal communication, physical communication, dan silent communication. Artinya ada komunikasi verbal, komunikasi yang fisikal, dan komunikasi yang sunyi. Komunikasi verbal maksunya ialah komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal atau yang kata-kata yang keluar dari mulut yang disepakati untuk saling berkomunikasi, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain sebagainya. Akan tetapi ada juga komunikasi verbal yang justru tidak menggunakan bahasa baku tapi bisa saling diterima antara komunikan dan komunikator, contohnya orang bule yang sedang berkunjung ke Jogja dan bertanya arah tujuan tempat wisata dengan warga lokal yang pada dasarnya bahasa yang digunakan berbeda tetapi mereka bisa saling memahami.
            Kemudian untuk komunikasi yang fisikal contohnya ialah seorang disabilitas tuna wicara sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya, mereka menggunakan bahasa tubuh, melalui gerakan, kode-kode, dan mimik wajah yang dapat saling dimengerti antar kedua belah pihak. Dan yang terakhir adalah komunikasi sunyi maksudnya disini ialah bahwa komunikasi itu tidak semuanya hanya bisa dilakukan melalui verbal dan gerakan fisik tapi ada bentuk lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau gerakan tubuh. Contohnya ialah ketika istri atau pacar kita sedang ngambek dan menangis, biasanya dia menggunakan bahasa “diam”, bahasa tersebut dinilai justru sebagai bentuk komunikasi yang efektif. Sesungguhnya dia sedang ingin mengatakan sesuatu dan menyatakan perasaannya kepada kita, justru apabila dengan kata-kata atau gerakan justru perasaan atau pesan tersebut tidak sampai. Kemudian lebih jauh lagi yang dilakukan oleh orang sufi, ahli kebatinan, orang yang sedang bercinta, pakar kasepuhan, atau orang yang sedang bertapa menggunakan bahasa komunikasi dengan sunyi dalam dimensi-dimensi kehidupan mereka.
            Berbicara lebih jauh soal komunikasi, ada banyak sekali contoh-contoh lainnya yang bisa menjadi gambaran antara komuikator dengan komunikan dalam menyampaikan pesannya. Seorang yang ahli public speaking mahir berbicara di depan banyak orang, menguasai berbagai macam teknik berkomunikasi dijamin belum tentu bisa menghadapi atau mengobrol dengan bayi atau anak kecil. Seorang pejabat atau politisi ulung yang ahli berpidato di podium dan berdebat dengan lawan bicaranya, dijamin belum tentu bisa mengkomunikasikan hasilnya langsung kepada rakyat kecil untuk mudah dimengerti mereka. Lalu ada tokoh masyarakat di desa atau LSM yang rajin berkomunikasi dengan korban atau masyarakat kecil belum tentu bisa menyampaikan pesannya kepada pejabat yang ditujukan. Selain itu seorang mahasiswa yang rajin membaca dan senang mendiskusikan materi kuliahnya kepada temannya dijamin belum tentu sanggup untuk menjelaskan maksudnya kepada dosen-dosen yang dianggap killer terhadap nilai. Serta masih banyak contoh-contoh lainnya yang mengindikasi bahwasanya berkomunikasi itu susah-susah gampang. Kadang keliatan susah, tapi kadang keliatan gampang.
            Pada intinya dan yang paling substansial dalam peristiwa komunikasi sesungguhnya bukan “bagaimana kemampuan bahasa yang digunakan”, akan tetapi apakah kedua belah pihak tersebut saling terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau komunikator atau komunikan saling terbuka untuk berdialog, bahasa apapun yang akan digunakan mudah dicari. Tetapi apabila dari awal mereka tertutup untuk berdialog, menggunakan bahasa apapun juga akan salah untuk bisa dimengerti. Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh berbagai macam faktor diantaranya adalah feodalisme, hierarkisme, atau segala macam perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
            Contoh dari feodalisme komunikasi misalnya ketika sang ayah hanya sanggup untuk menasehati dan memberi tahu akan tetapi tidak sanggup untuk dinasehati atau diberitahu. Apapun yang keluar dari perkataannya dianggap paling benar, sedangkan kalo dia diberi tahu semuanya dianggap salah. Lalu ada pula contoh dalam kondisi hierarkisme tata sosial, misalnya yang ada di tubuh birokrasi, perusahaan, dan militer. Seorang pimpinan atau atasan yang gemar menasehati dan memberi tahu kepada bawahannya yang dianggap sebagai kewajiban, akan tetapi sebaliknya dia tidak mau dinasehati atau diberitahu. Kondisi tersebut membuat seseorang menjadi antikritik dan tidak bisa mendengarkan apalagi menerima sesuatu masukan yang dianggapnya sebagai kritikan atau kesan menyalahkannya. Biasanya ia terbiasa memerintah tapi tidak ingin diperintah. Selalu ingin dipuji, tak siap untuk dicerca. Kondisi feodalisme dan hierarkisme komunikasi tersebut nyata ada di lingkup sosial masyarakat sampai saat ini.
               Kesimpulannya adalah untuk bisa menjadi orang yang ahli berkomunikasi tidak harus pintar secara akademik sebagai prasyarat. Tetapi komunikasi itu harus rasional, kontekstual, dan objektif. Apabila tidak rasional dalam berkomunikasi tentu akan mendapatkan debat kusir bukan pesan yang positif. Apabila subjektif, apapun yang dibicarakan oleh lawan bicara akan dianggap salah. Apabila konteks komunikasi yang dibicarakan tidak setara, beda topik, dan lain sebagainya tentu akan mendaptkan kondisi komunikasi yang tidak akan nyambung untuk dimengerti. Peristiwa komunikasi yang tidak rasional, tidak kontekstual, dan tidak objektif tersebut rawan terjadi miskomunikasi. Dimana pangkal atau ujung komunikasi antara komunikator dan komunikan tidak akan bisa bertemu untuk dapat dimengerti.

Jakarta, 6 Maret 2018
Oleh: Gilang Yudha Prakoso