Dewasa ini, kita sering ditunjukkan ketidakadilan, permusuhan, dan
kebencian menyebar kemana-mana. Apakah tidak lelah energi dalam hidup kita
terbuang sia-sia untuk hal yang demikian? Jawabannya tentu sia-sia, akan tetapi
masih banyak orang yang melakukannya. Bukankah Tuhan kita, Allah SWT Sang Maha
Pengasih lagi Maha Penyayang? Dalam surat Al-Fatihah sebagai surat pembuka dan
sebagai ibu dari surat-surat yang ada di Al-qur’an sampai ditegaskan sebanyak
dua kali bahwa Tuhan sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Faktanya saat
ini kita melihat kebencian meyebar kemana-mana, ada yang soal SARA (Suku,
Agama, Ras, dan Antar Golongan), putus hubungan dengan kekasih, perbedaan
pendapat, perbedaan preferensi politik, perbedaan mahzab, perbedaan status
sosial ekonomi, dan lain sebagainya. Benang merahnya yang menjadi awal
kebencian adalah perbedaan itu sendiri. Padahal perbedaan merupakan sebuah
keniscayaan dan keniscayaan itu lebih tinggi dari pasti. Artinya perbedaan ini
pasti akan selalu ada karena Tuhan kita telah menentukannya tidak akan ada yang
sama di alam semesta ini.
Perbedaan ini, kalau kita resapi dengan bijak justru memberikan warna
dan motif yang indah, karena Tuhan pun mencintai keindahan. Coba bayangkan
apabila di alam semesta ini hanya ada satu warna atau monokrom, sudah barang
tentu sangatlah monoton dan membosankan untuk dipandang. Ketika hujan lebat
berhenti, lalu muncul matahari yang mencerahkan secara perlahan kita bisa
menyaksikan pelangi yang memiliki aneka warna yang berbeda namun dapat saling
bersanding dengan mesra. Apabila kita sanggup menikmati perbedaan itu justru
rasanya sangat indah. Mungkin saat ini, manusia banyak yang mengalami krisis
cinta karena benci adalah malpraktik dari cinta. Padahal kalau kita semua
mafhum, betapa nikmatnya mencintai daripada dicintai, nikmatnya berbagi
daripada dibagi, dan mungkin kalau harus memilih lebih enak dibenci daripada
membenci. Karena benci itu sendiri merupakan salah satu bagian dari penyakit
hati. Rasanya perih apabila terus tumbuh dan berkembang mengisi celah hati
kita.
Berbagai konflik di dalam negeri maupun mancanegara rasanya tidak akan
pernah terselesaikan apabila tidak menggunakan pendekataan cinta dalam upaya
mengatasi perselisihan. Dua kubu akan saling dihadapkan terus menerus untuk
berseteru, jauh dari kata damai. Pemimpin-pemimpin dunia belum sanggup
mengupayakan perdamaian apabila masih mementingkan ego pribadi. Rasanya
perdamaian yang sejati menjadi utopis yang entah kapan akan dapat terwujud
sebelum kiamat. Beberapa konflik horizontal dan komunal yang pernah terjadi di
Indonesia ada yang mencapai kesepakatan damai, salah satunya di Aceh. Akan
tetapi yang berujung konfrontasi dan pertikaian secara statistik angkanya jauh
lebih lebih besar. Apalagi bila kita melihat konteks secara internasional yang
melibatkan antar negara dan sekutu.
Salah satu konflik yang sampai detik ini belum ada resolusi damai adalah
di Timur Tengah, salah satunya yang paling sering kita sorot adalah Palestina
dan Israel, meskipun sebenernya negara-negara di Timur Tengah yang secara
wilayah terbagai antara Asia bagian barat dan Afrika bagian utara jumlahnya
juga sangat banyak. Entah konspirasi global, persaingan dagang, perebutan
pengaruh dagang dan kekuasaan, serta masih banyak faktor-faktor lainnya.
Bantuan materi dan non materi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),
organisasi-organisasi internasional, koalisi antar negara, maupun dari berbagai
penduduk dunia belum mampu memadamkan api konflik tersebut. Terkadang justru
menyulut api ke berbagai sektor kehidupan dan masyarakat yang ikut tersinggung.
Lantas apabila memang Israel dicap jahat, apakah kita harus membencinya? Lantas
apabila Yahudi kejam, apakah kita juga harus membencinya?
Lebih lanjut lagi, perbedaan sesama Agama Islam antara Sunni dengan
Syiah, antara ekstrimis dengan moderat, antara budaya dengan agama saat ini
masih sering terjadi perselisihan. Bahkan sesama umat muslim pun sebagian
justru saling membenci, berkelahi, dan bermusuhan untuk mati-matian membenarkan
yang mereka anut dan menyalahkan yang lainnya. Kita hakim apalagi Tuhan yang
bisa memvonis antara benar dan salah. Kita hanyalah manusia yang berhak
memnentukan pilihan masing-masing yang akan kita anut sesuai dengan keyakinan
kita. Padahal awal dan akhir semuanya sama, hanya prosesnyalah yang semua memiliki
caranya masing-masing.
Contoh yang lainnya yang masih hangat kita rasakan di blantika
perpolitikan tanah air. Polarisasi antara pendukung Ahok dan Anies masih sangat
jelas kita lihat. Persoalan awalnya pasti perbedaan yang tidak bisa diterima
satu sama lain. Apabila pendukung Ahok menghina Anies dengan keras, tetapi
apabila Ahok yang dihina mereka tidak terima. Begitupun kubu sebaliknya. Apapun
kebijakan atau program yang dilaksanakan pasti ditolak dan di caci maki. Dunia
nyata maupun dunia maya sama saja pengaruh negatifnya apabila sikap kita selalu
dilandasi kebencian untuk memandang sesuatu. Kedewasaan dan kematangan untuk
meiihat perspektif masih sangat sempit, dangkal, dan pendek. Pemimpin kita
sudah memberikan contoh dan keteladanan untuk mempersatukan perbedaan tersebut,
akan tetapi apabila pendukungnya masih belum menerima kedamaian itu hanyalah
sebuah harapan.
Tuhan pun berfirman, apa yang kita anggap baik belum tentu itu baik bagi
kita dan apa yang kita anggap buruh belum tentu itu buruk bagi kita, sungguh
Tuhan Maha Mengetahui Segalanya. Mungkin sebagian dari kita ada yang masih
sulit untuk menerima segala macam perbedaan. Barangkali sebagian dari kita juga
masih banyak yang ingin untuk menghina apa yang tidak kita suka. Tapi upayakan
dan latihlah dari sekarang untuk tidak dilandasi dengan rasa benci. Karena
benci kita tidak bisa menilai sesuatu dengan objektif dan tepat, karena apa
yang kita nilai tersebut pasti subjektif dan tidak murni. Bahkan Rasulullah SAW
pun selalu melihat segala objek dengan sisi yang positif. Sejatinya dari kita
lahir sampai kanak-kanak kita tidak memiliki naluri untuk membenci, hanya cinta
dan bahagia yang saling dibagi. Kadangkali kita perlu belajar dari kemurnian
anak-anak tersebut sebagai bahan refleksi. Sungguh betapa indahnya apabila kita
semua memili kasih, saying, dan cinta yang akan melunturkan segala noda yang
menempel pada kain putih. Dan pada akhirnya kita bisa menemukan kedamaian yang
sejati ketika seluruh manusia bisa saling menerima dan mencintai satu sama
lain. Sekian.
Jakarta,
4 Maret 2018
-GYP-