Sunday, February 9, 2014

Negeri Parodi

Awal tahun 2014, bukan menjadi awal yang indah bagi kita semua bangsa Indonesia. Entah cobaan atau ujian dari Tuhan bahasanya negeri kita sedang dilanda banyak musibah dan bencana. Mulai dari banjir Jakarta, banjir bandang Manado, banjir pantura, letusan Gunung Sinabung, gempa Kebumen, longsor Jombang, dan bencana lain yang silih berganti masih menyelimuti bumi pertiwi kita ini. Apakah bumi pertiwi masih menangis? Sepertinya iya ketika ego kita masih besar dalam mengatasi bencana ini, adu gengsi atau hal lainnya yang membuat kita belum bisa bersatu bersama-sama membantu korban-korban, saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia yang sedang terkena musibah. Dalam hal bantuan tidak bisa dipasrahkan saja dengan satu pihak, tapi harus banyak elemen yang berjuang mengatasi bersama. Mulai dari pemerintah pusat melalui kementrian teknis, basarnas, BNPB, TNI, dan masyarakat lainnya. Bersyukur, banyak pihak yang terlihat memberikan bantuan untuk para korban, baik dalam bentuk fisik, materi, maupun moril sekalipun. Ada dari swadaya masyarakat, mahasiswa, perusahaan, bahkan partai poitik sekalipun. Tak masalah bagi saya bilamana para caleg dari partai politik manapun dengan kompaknya turun menemui korban bencana, terutama yang berada di daerah pemilihannya (dapil), namun yang harus diingat adalah ketulusan! Ya, mungkin hal tersebutlah yang diharapkan dari para korban ketika mereka menerima bantuan tersebut. Bukan pemberian yang bersyarat, artinya diarahkan untuk memilih caleg ataupun parpol tertentu.

Mustinya dengan bencana ini masyarakat kita menjadi lebih kompak untuk saling membantu, baik ketika bencana terjadi maupun pasca bencana. Bayangkan berapa puluh triliun kerugian materi yang diperoleh. Belum lagi kerugian moril dan psikis itu juga perlu untuk dibenahi. Saya merasakan sendiri dampak yang ditimbul ketika bencana, korban yang kehilangan tempat tinggalnya dan terpaksa dengan keadaan pengungsian yang kurang manusiawi, jalan-jala maupun infrastruktur yang rusak berat terutama banyak jalan yang rusak dan berlubang dalam karena terkena aliran banjir yang begitu kuat. Efek dominonya adalah jalanan menjadi macet, distribusi barang jadi terlambat, kebutuhan ekonomi menjadi langka, harga menjadi melejit, dan akhirnya rakyat juga yang harus menjerit! Presiden sudah menginstruksikan kepada Kementrian Pekerjaan umum untuk segera memperbaiki jalan-jalan yang rusak tersebut sesegera mungkin. Dengan didukung anggaran yang bertambah dan komponen yang mengerjakan juga ditambah.

Mungkin hal diatas hanyalah menjadi bahan pengingat saja bahwa negeri kita ini sedang dilanda bencana dimana-mana! Yang ironis dan menggelitik bagi saya adalah masih banyaknya stasiun TV yang justru menayangkan program-program komedi dan hiburan, yang isinya hanya ketawa-ketawa, menghina sana-sini, apakah tidak sedikitpun hatinya terketuk?! Hampir semua stasiun TV menayangkan program komedi tersebut entah pagi, siang, sore, malam selalu ada. Mustinya para pemilik stasiun TV mengarahkan supaya para pemirsanya sadar dan saling bahu membahu walau sejenak saja. Menurut survei dari salah satu lembaga, bahwasanya media khususnya TV hanya menanyangkan 10 persen pendidikan, 80 persen hiburan, baru sisanya persuasif dan informasi. Hal ini harus menjadi pembahasan serius kalo boleh saya bilang. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebenarnya sangat bisa menggunakan kewenangannya untuk menegur stasiun TV yang demikian. Tapi, pertanyaannya apakah sudah dilakukan dengan tepat? Atau diam seolah tak bisa berbuat?

Ayo renungkan bersama hal ini masalah serius bagi kita semua. kita do'akan bersama supaya sodara-sodar kita sebangsa dan setanah air diberikan ketabahan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Amiin.

Oleh : GYP

No comments:

Post a Comment