"Estetika politik yang baik, benar, indah adalah politik yang membuat orang senyum, bahagia, indah. ~Pak Pipin, dosen IP UNPAD"
Politik adalah seni memenangkan
kekuasaan. Politik memang selalu identik dengan kekuasaan (power). Dan
berdasarkan rangkuman kuliah yang saya pelajari di kelas, politik ialah
kemampuan untuk mempengaruhi kawan dan/atau lawan agar berpihak untuk kemenangan
supaya menguasai. Agak berat memang bila dijabarkan satu persatu. Orang yang
ingin berkecimpung dalam dunia politik, hampir pasti dia berhasrat ingin
berkuasa. Dengan segala cara mulai dari yang konstitusional maupun
inkonstitusional, legal atau non legal, jujur atau tidak semua bisa dilakukan
untuk meraih kekuasaan. Karena kekuasaan ialah hal yang harus diperjuangkan
lalu diraih, bukanlah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Berbicara tentang politik sepertinya
terdengar ngeri dan tak ingin diikuti, bagi yang awan dan buta politik. Apalagi
dalam demokrasi seperti ini, semua orang berlomba-lomba ingin berpolitik, entah
apa motifnya mereka yang jelas pasti berkuasa, sekalipun yang tak punya latar
belakang politik. Jika tak ada orang yang punya hasrat politik, maka demokrasi
tidaklah jalan. Negara ini butuh orang-orang atau pemimpin yang berhasrat
kuasa, tapi niat dan tujuannya mulia untuk kepentingan rakyat, bukan pribadi
atau kelompok. Apakah saat ini kita krisis pemimpin yang ideal? Krisis orang
yang bias dijadikan teladan? Saya pikir tidak apabila kita mau mencari dan
menemukan lalu mengajaknya untuk berpolitik. Orang baik dan berintegritas
banyak, namun yang mau terjun dalam dunia politik sedikit, ya itulah kenapa
yang ada saat ini hanya orang-orang jahat yang memegang kesempatan untuk
berkuasa. Dalam filosofinya, politik bertujuan untuk mencari Harta, Tahta, dan
Wanita. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena sudah banyak fakta yang terjadi.
Dimana Posisi Kita
Nah, untuk terlibat dalam pertarungan
politik salah satuya melalui pemilu. Media untuk berkuasa salah satunya melalui
cara ini. Calon-calon legislator dan calon-calon presiden memliki kesempatan
yang dalam dalam kompetisi ini. Kenapa kompetisi? Karena semua akan bersaing
tidak hanya antar partai tapi dalam partainya juga. Konsekuensi sistem pemilu
dengan bentuk proporsial terbuka memang demikian. Masyarakat berhak memilih
orangnya secara langsung dan dari partai politik manapun, bukan lagi partai
politik yang menentukan orangnya. Namun, hal ini juga menjadi dilemma ketika
yang terpilih nanti bukan orang-orang yang terbaik (hanya modal popularitas),
beda ketika partai politik yang telah melakukan pengkaderan yang matang lalu
merepresentasikan kadernya. Dua-duanya ada baiknya dan tidaknya bila kita mau
untuk menganilisnya lebih jauh.
Saya pikir semua orang memiliki
kesempatan yang sama di dalam pemilu, entah dia politisi senior atau junior,
artis, tukang becak, akademisi dan lainnya, toh yang akan memilihnya masyarakat.
Namun, yang perlu diingat ketika kita memilih nanti gunakanlah akal sehat dan
hati nurani. Tentukan orang-orang terbaik yang akan menjadi wakil kita di
parlemen dan presiden kita kelak. Bukan orang yang menggunakan modalnya untuk
membodohi masyarakat dengan media yang dimiliknya. Salah satu contoh konkretnya
kuis yang membagi-bagikan hadiah di stasiun televise swasta besar di Indonesia.
Dengan dalih money politic atau
kampanye terselebung. Masyarakat harus lebih cerdas dan jangan tergiur dengan
materi. Namun yang lebih berbahaya adalah ajakan untuk golput. KPU akan
bekerjasama dengan KPI dan kepolisian, apabila ada orang atau kelompok yang
mengajak golput. Dengan Pasal 292 dan Pasal 308 Undang-Undang Nomor 8 tahun
2012. Dalam pasal itu dijelaskan, setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan
orang lain kehilangan hak pilihnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
tahun dan denda paling banyak Rp 24 juta.
Jadi, kesimpulannya adalah bagi kita
yang memiliki hak memilih mari pergunakan dengan baik dan bijak. Jangan menjadi
orang yang apatis terhadap masa depan bangsa kita. Jangan mau menerima uang
atau bentuk materi dari orang yang mengajak kita memilih orangnya, karena hanya
dengan materi sepele itu saja bisa menurunkan harga diri kita. Ayok kita
bersama-sama sukseskan Pemilu 2014 ini dengan memilih orang terbaik menurut
akal sehat dan hati nurani kita. Dalam pemilu apalagi yang mau dicari kalau
bukan kekuasaan. Kekuasaan yang dilakukan oleh orang-orang terbaik. Selamat menentukan!
Oleh : GYP (Menlu HIMA IP UNPAD)

No comments:
Post a Comment