Friday, February 21, 2014

Pemilu : Kompetisi Merebut Hati

"Estetika politik yang baik, benar, indah adalah politik yang membuat orang senyum, bahagia, indah. ~Pak Pipin, dosen IP UNPAD"

Politik adalah seni memenangkan kekuasaan. Politik memang selalu identik dengan kekuasaan (power). Dan berdasarkan rangkuman kuliah yang saya pelajari di kelas, politik ialah kemampuan untuk mempengaruhi kawan dan/atau lawan agar berpihak untuk kemenangan supaya menguasai. Agak berat memang bila dijabarkan satu persatu. Orang yang ingin berkecimpung dalam dunia politik, hampir pasti dia berhasrat ingin berkuasa. Dengan segala cara mulai dari yang konstitusional maupun inkonstitusional, legal atau non legal, jujur atau tidak semua bisa dilakukan untuk meraih kekuasaan. Karena kekuasaan ialah hal yang harus diperjuangkan lalu diraih, bukanlah sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma.
Berbicara tentang politik sepertinya terdengar ngeri dan tak ingin diikuti, bagi yang awan dan buta politik. Apalagi dalam demokrasi seperti ini, semua orang berlomba-lomba ingin berpolitik, entah apa motifnya mereka yang jelas pasti berkuasa, sekalipun yang tak punya latar belakang politik. Jika tak ada orang yang punya hasrat politik, maka demokrasi tidaklah jalan. Negara ini butuh orang-orang atau pemimpin yang berhasrat kuasa, tapi niat dan tujuannya mulia untuk kepentingan rakyat, bukan pribadi atau kelompok. Apakah saat ini kita krisis pemimpin yang ideal? Krisis orang yang bias dijadikan teladan? Saya pikir tidak apabila kita mau mencari dan menemukan lalu mengajaknya untuk berpolitik. Orang baik dan berintegritas banyak, namun yang mau terjun dalam dunia politik sedikit, ya itulah kenapa yang ada saat ini hanya orang-orang jahat yang memegang kesempatan untuk berkuasa. Dalam filosofinya, politik bertujuan untuk mencari Harta, Tahta, dan Wanita. Hal ini tidak dapat dipungkiri, karena sudah banyak fakta yang terjadi.
Dimana Posisi Kita
Nah, untuk terlibat dalam pertarungan politik salah satuya melalui pemilu. Media untuk berkuasa salah satunya melalui cara ini. Calon-calon legislator dan calon-calon presiden memliki kesempatan yang dalam dalam kompetisi ini. Kenapa kompetisi? Karena semua akan bersaing tidak hanya antar partai tapi dalam partainya juga. Konsekuensi sistem pemilu dengan bentuk proporsial terbuka memang demikian. Masyarakat berhak memilih orangnya secara langsung dan dari partai politik manapun, bukan lagi partai politik yang menentukan orangnya. Namun, hal ini juga menjadi dilemma ketika yang terpilih nanti bukan orang-orang yang terbaik (hanya modal popularitas), beda ketika partai politik yang telah melakukan pengkaderan yang matang lalu merepresentasikan kadernya. Dua-duanya ada baiknya dan tidaknya bila kita mau untuk menganilisnya lebih jauh.
Saya pikir semua orang memiliki kesempatan yang sama di dalam pemilu, entah dia politisi senior atau junior, artis, tukang becak, akademisi dan lainnya, toh yang akan memilihnya masyarakat. Namun, yang perlu diingat ketika kita memilih nanti gunakanlah akal sehat dan hati nurani. Tentukan orang-orang terbaik yang akan menjadi wakil kita di parlemen dan presiden kita kelak. Bukan orang yang menggunakan modalnya untuk membodohi masyarakat dengan media yang dimiliknya. Salah satu contoh konkretnya kuis yang membagi-bagikan hadiah di stasiun televise swasta besar di Indonesia. Dengan dalih money politic atau kampanye terselebung. Masyarakat harus lebih cerdas dan jangan tergiur dengan materi. Namun yang lebih berbahaya adalah ajakan untuk golput. KPU akan bekerjasama dengan KPI dan kepolisian, apabila ada orang atau kelompok yang mengajak golput. Dengan Pasal 292 dan Pasal 308 Undang-Undang Nomor 8 tahun 2012. Dalam pasal itu dijelaskan, setiap orang yang dengan sengaja menyebabkan orang lain kehilangan hak pilihnya dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun dan denda paling banyak Rp 24 juta. 

Jadi, kesimpulannya adalah bagi kita yang memiliki hak memilih mari pergunakan dengan baik dan bijak. Jangan menjadi orang yang apatis terhadap masa depan bangsa kita. Jangan mau menerima uang atau bentuk materi dari orang yang mengajak kita memilih orangnya, karena hanya dengan materi sepele itu saja bisa menurunkan harga diri kita. Ayok kita bersama-sama sukseskan Pemilu 2014 ini dengan memilih orang terbaik menurut akal sehat dan hati nurani kita. Dalam pemilu apalagi yang mau dicari kalau bukan kekuasaan. Kekuasaan yang dilakukan oleh orang-orang terbaik. Selamat menentukan!

Oleh : GYP (Menlu HIMA IP UNPAD)


No comments:

Post a Comment