Friday, March 14, 2014

MENIMBANG JOKOWI SEBAGAI RI-1 (PART II)


Semenjak dirinya terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, dengan berbagai gebrakan yang telah dilakukan mampu menarik simpati media. Bahkan Jokowi mendapatkan julukan darling media karena saking sering pemberitaan dirinya yang sampai mengalahkan Presiden SBY. Ini bisa dibilang fenomena, baik media cetak, online, TV, dan lain sebagainya selalu saja menyajikan Jokowi sebagai topok yang ramai untuk diperbincangkan. Tidak ada yang dirugikan, popularitas Jokowi semakin meningkat seiring tampilnya media dan media pun untung karena banyaknya pembaca atau penonton berita yang disajikannya. Tapi apakah hal ini baik untuk penonton? Ketika media menggiring opini publik tentang tokoh tertentu, ketika semuanya dialamatkan pada pesta politik.

Hal ini terbukti manjur, popularitas Jokowi melejit jauh mengalahkan capres-capres lain yang lebih dulu mendeklarasikan dirinya sebagai capres, entah diusung parpol atau mengaku independen. Peran media sungguh luar biasa dalam membawa pengaruh poularitas Jokowi yang selalu menang dalam survei. Dalam survei dari Pusat Data Bersatu (PDB) yang dipimpin Didik J. Rachbini ini, Joko Widodo berada pada peringkat teratas dengan meraih 21,2 persen suara. Jokowi mengalahkan 12 calon lainnya, termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Sedangkan capres-capres yang lain berada dibawah Jokowi. Yang menjadi tanda tanya juga ialah Jokowi belum pernah sama sekali mendeklarasikan bahwa dirinya berniat maju sebagai capres dari PDIP (bukan RI). Semua tergantung Bu Mega, tapi media senang sekali menarik ulur hal ini agar menimbulkan opini publik. 

Ketika sudah menjadi Gubernur DKI Jakarta, harusnya Jokowi fokus untuk mengerjakan tugas-tugas yang mesti diselesaikannya. Tak lagi berpikiran ingin maju sebagai presiden. Jokowi sudah menjadi milik warga Jakarta bukan lagi milik PDIP apalagi Bu Mega saja. Sudah cukup untuk meninggalkan warga Solo saja yang ditinggalkannya ditengah-tengah kepengurusannya. Sekarang mau lagi warga DKI Jakarta di PHP-in demikian lagi? Coba kita ingat-ingat lagi berapa anggara yang dikeluarkan dalam menyelenggarakan pilkada di Solo. Dan di DKI Jakarta, menurut KPUD total anggaran yang dikeluarkan sepanjang dua kali putaran Pilgub DKI sebesar 258 miliar rupiah. Siapa dirugikan dan siapa diuntungkan? Memang terbukti benar bahwasanya demokrasi di Indonesia berbiaya sangat mahal hanya untuk mencari pemimpinnya.

 
Lalu, ketika nanti andai Jokowi benar-benar maju dalam bursa capres apakah ini sebagai peningkatan kariernya atau peningkatan suara PDIP? Sekejen PDIP, Tjahjo Kumolo telah memberikan sinyalmen apabila PDIP meraih angka diatas 20 persen pada pemilu nanti, maka PDIP akan mengusung Jokowi untuk disandingkan dengan Bu Mega. Dan apabila suaranya dibwah angka 20 persen maka Jokowi akan dipasangkan dengan tokoh lainnya. Semua menunggu hasil suara pada pemilu legislatif nanti pada penentuan presidential treshold di parlemen. Dari pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa PDIP tetap akan mengusung Jokowi untuk mendongkrak suara partainya dan Bu Mega masih ingin maju menjadi Capres RI untuk yang ketiga kalinya. Terlebih Jokowi juga menjadi juru kampanye di beberapa daerah dalam pemenangan kader PDIP ikut yang bertarung di pilkada. Beberapa waktu lalu tepatnya hari Rabu, 12 Maret 2014 bersama Bu Mega, Jokowi nyekar ke makam proklamator RI Bung Karno di Blitar, Jawa Timur. Jokowi meninggalkan daerahnya pada hari kerja dan tak ada ijin untuk melakukan agenda tersebut, ini tidak etis karena sifatnya kunjungan pribadi apalagi dengan statusnya sebagai kader PDIP untuk menemani Bu Mega (lagi). 

Beberapa hal yang menyebabkan popularitas Jokowi merangkak tinggi :
1.       Mobil Esemka yang ingin dipakai sebagai mobil dinas di Solo, namun tak jadi (tak lolos uji emisi).
2.       Gaji sebagai walikota yang tak diambil (karena tunjangannya melebihi gaji tersebut).
3.     Akan naik mobil rental (innova) meski disediakan mobil dinas (akhirnya ya menggunakan juga mobil dinas itu).
4.       Meresmikan flyover Dr. Satrio yang dapat memecah kemacetan (padahal proyek jaman Foke).
5.       Dan hal-hal lain yang dibuat media supaya menaikkan citra dan popularitas Jokowi.

Saya tidak tahu apakah benar apabila selama ini Stanley Bernard 'Stan' Greenberg, konsultan politik, pollster, ahli strategi pemenangan pemilu - pilpres nomor wahid di dunia, yang ternyata terbukti selama ini bertindak sebagai 'sutradara atau otak' di balik rekayasa pencitraan dan melambungnya popularitas Jokowi selama dua tahun terakhir.  Stan Greenberg, Ketua Korps Demokrat  Amerika Serikat (AS), dikabarkan merupakan sahabat karib konglomerat Indonesia James Riady yang keduanya juga adalah anggota elit Arkansas Connection, sebuah organisasi yang sangat berpengaruh di AS. James Riady selama ini disebut-sebut sebagai konsultan politik yang memenangkan Jokowi pada Pilgub DKI beberapa waktu lalu. Dan seolah-olah Jokowi hanya boneka dari Bu Mega, kemana-mana nurut dan mau bila Bu Mega berkehendak. Huwallahu’alam.

Yang jelas, kesimpulan dari saya selama ini Jokowi hanyalah Capres wacana saja karena belum tentu juga ia akan maju dalam pemilu ini, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hanya Allah, Jokowi, dan Bu Mega lah yang pasti tahu bagaimana permainan politik nantinya yang akan dipertunjukkan. Lembaga-lembaga survei yang selama ini menampilkan sebagai capres juga belum tentu valid benar. Dan media-media yang selama ini selalu membungkus Jokowi dengan apik juga belum tentu independen benar. Dan yang terpenting fenomena Jokowi telah mampu mengalahkan Konvensi Partai Demokrat yang diisi oleh orang-orang hebat dan konten yang lebih bermutu. Tulisan diatas hanyalah persepsi pribadi dari saya tentang “Fenomena Jokowi”, jangan ada yang tersinggung atau marah karena tulisan ini hanyalah ditulis oleh mahasiswa semester 4 yang sok tahu. Semoga bermanfaat. :)

Oleh : GYP

  

No comments:

Post a Comment