Semenjak
dirinya terpilih sebagai Gubernur DKI Jakarta, dengan berbagai gebrakan yang
telah dilakukan mampu menarik simpati media. Bahkan Jokowi mendapatkan julukan darling media karena saking sering
pemberitaan dirinya yang sampai mengalahkan Presiden SBY. Ini bisa dibilang
fenomena, baik media cetak, online, TV, dan lain sebagainya selalu saja
menyajikan Jokowi sebagai topok yang ramai untuk diperbincangkan. Tidak ada
yang dirugikan, popularitas Jokowi semakin meningkat seiring tampilnya media
dan media pun untung karena banyaknya pembaca atau penonton berita yang
disajikannya. Tapi apakah hal ini baik untuk penonton? Ketika media menggiring
opini publik tentang tokoh tertentu, ketika semuanya dialamatkan pada pesta
politik.
Hal ini
terbukti manjur, popularitas Jokowi melejit jauh mengalahkan capres-capres lain
yang lebih dulu mendeklarasikan dirinya sebagai capres, entah diusung parpol
atau mengaku independen. Peran media sungguh luar biasa dalam membawa pengaruh
poularitas Jokowi yang selalu menang dalam survei. Dalam survei dari Pusat Data
Bersatu (PDB) yang dipimpin Didik J. Rachbini ini, Joko Widodo berada pada
peringkat teratas dengan meraih 21,2 persen suara. Jokowi mengalahkan 12 calon
lainnya, termasuk Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Sedangkan
capres-capres yang lain berada dibawah Jokowi. Yang menjadi tanda tanya juga
ialah Jokowi belum pernah sama sekali mendeklarasikan bahwa dirinya berniat
maju sebagai capres dari PDIP (bukan RI). Semua tergantung Bu Mega, tapi media
senang sekali menarik ulur hal ini agar menimbulkan opini publik.
Ketika sudah
menjadi Gubernur DKI Jakarta, harusnya Jokowi fokus untuk mengerjakan
tugas-tugas yang mesti diselesaikannya. Tak lagi berpikiran ingin maju sebagai
presiden. Jokowi sudah menjadi milik warga Jakarta bukan lagi milik PDIP
apalagi Bu Mega saja. Sudah cukup untuk meninggalkan warga Solo saja yang
ditinggalkannya ditengah-tengah kepengurusannya. Sekarang mau lagi warga DKI
Jakarta di PHP-in demikian lagi? Coba kita ingat-ingat lagi berapa anggara yang
dikeluarkan dalam menyelenggarakan pilkada di Solo. Dan di DKI Jakarta, menurut
KPUD total anggaran yang dikeluarkan sepanjang dua kali putaran Pilgub DKI
sebesar 258 miliar rupiah. Siapa dirugikan dan siapa diuntungkan? Memang
terbukti benar bahwasanya demokrasi di Indonesia berbiaya sangat mahal hanya
untuk mencari pemimpinnya.
Lalu, ketika
nanti andai Jokowi benar-benar maju dalam bursa capres apakah ini sebagai
peningkatan kariernya atau peningkatan suara PDIP? Sekejen PDIP, Tjahjo Kumolo
telah memberikan sinyalmen apabila PDIP meraih angka diatas 20 persen pada
pemilu nanti, maka PDIP akan mengusung Jokowi untuk disandingkan dengan Bu
Mega. Dan apabila suaranya dibwah angka 20 persen maka Jokowi akan dipasangkan
dengan tokoh lainnya. Semua menunggu hasil suara pada pemilu legislatif nanti
pada penentuan presidential treshold di parlemen. Dari pernyataan tersebut
mengindikasikan bahwa PDIP tetap akan mengusung Jokowi untuk mendongkrak suara
partainya dan Bu Mega masih ingin maju menjadi Capres RI untuk yang ketiga
kalinya. Terlebih Jokowi juga menjadi juru kampanye di beberapa daerah dalam
pemenangan kader PDIP ikut yang bertarung di pilkada. Beberapa waktu lalu
tepatnya hari Rabu, 12 Maret 2014 bersama Bu Mega, Jokowi nyekar ke makam proklamator RI Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
Jokowi meninggalkan daerahnya pada hari kerja dan tak ada ijin untuk melakukan
agenda tersebut, ini tidak etis karena sifatnya kunjungan pribadi apalagi
dengan statusnya sebagai kader PDIP untuk menemani Bu Mega (lagi).
Beberapa hal yang menyebabkan
popularitas Jokowi merangkak tinggi :
1. Mobil
Esemka yang ingin dipakai sebagai mobil dinas di Solo, namun tak jadi (tak
lolos uji emisi).
2. Gaji
sebagai walikota yang tak diambil (karena tunjangannya melebihi gaji tersebut).
3. Akan
naik mobil rental (innova) meski disediakan mobil dinas (akhirnya ya
menggunakan juga mobil dinas itu).
4. Meresmikan
flyover Dr. Satrio yang dapat memecah kemacetan (padahal proyek jaman Foke).
5. Dan
hal-hal lain yang dibuat media supaya menaikkan citra dan popularitas Jokowi.
Saya tidak
tahu apakah benar apabila selama ini Stanley
Bernard 'Stan' Greenberg, konsultan politik, pollster, ahli strategi
pemenangan pemilu - pilpres nomor wahid di dunia, yang ternyata terbukti selama
ini bertindak sebagai 'sutradara atau otak' di balik rekayasa pencitraan dan
melambungnya popularitas Jokowi selama dua tahun terakhir. Stan
Greenberg, Ketua Korps Demokrat Amerika Serikat (AS), dikabarkan
merupakan sahabat karib konglomerat Indonesia James Riady yang keduanya juga
adalah anggota elit Arkansas Connection, sebuah organisasi yang sangat
berpengaruh di AS. James Riady selama ini disebut-sebut sebagai
konsultan politik yang memenangkan Jokowi pada Pilgub DKI beberapa waktu lalu. Dan
seolah-olah Jokowi hanya boneka dari Bu Mega, kemana-mana nurut dan mau bila Bu
Mega berkehendak. Huwallahu’alam.
Yang jelas, kesimpulan dari saya selama ini
Jokowi hanyalah Capres wacana saja karena belum tentu juga ia akan maju dalam
pemilu ini, bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Hanya Allah, Jokowi, dan Bu Mega
lah yang pasti tahu bagaimana permainan politik nantinya yang akan
dipertunjukkan. Lembaga-lembaga survei yang selama ini menampilkan sebagai
capres juga belum tentu valid benar. Dan media-media yang selama ini selalu
membungkus Jokowi dengan apik juga belum tentu independen benar. Dan yang
terpenting fenomena Jokowi telah mampu mengalahkan Konvensi Partai Demokrat
yang diisi oleh orang-orang hebat dan konten yang lebih bermutu. Tulisan diatas
hanyalah persepsi pribadi dari saya tentang “Fenomena Jokowi”, jangan ada yang
tersinggung atau marah karena tulisan ini hanyalah ditulis oleh mahasiswa
semester 4 yang sok tahu. Semoga bermanfaat. :)
Oleh : GYP
Oleh : GYP

No comments:
Post a Comment