"Saya hanya bekerja dan bekerja, tak peduli penilaian orang mau jelek, mau gagal, mau berhasil yang penting saya bekerja. ~Jokowi"
Tak dapat
dipungkiri, popularitas Joko Widodo atau akrab di sapa Jokowi masih melambung
tinggi mengalahkan tokoh-tokoh lain yang ikut meramaikan bursa calon presiden
RI 2014. Siapakah Jokowi? Pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 saat ini menjabat
sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Mengawali karier dari bawah
setelah tamat menyelesaikan gelar insinyur Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada
(UGM), Yogyakarta, setelah lulus beliau sempat merantau ke Aceh untuk bekerja
di salah satu BUMN. Kemudian kembali lagi ke Solo untuk bekerja di salah satu
CV yang bergerak di bidang perkayuan. Setelah memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang cukup, pada tahun 1998 dirinya mendirikan perusahaan bisnis di
bidang meubel dan dengan kerja kerasnya berhasil untuk mengembangkan bisnisnya
untuk dapat mengekspor hasil meubelnya ke luar negeri.
Mengenal Jokowi
Dimulai dari
bergabungnya ke dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan latar
belakang sebagai pengusaha meubel. Pada tahun 2005, Jokowi mencalonkan diri
sebagai Walikota Solo, banyak kalangan yang meragukannya untuk memimpin. Namun,
dengan bantuan mesin partai dan kendaraan politiknya beliau terpilih sebagai
Walikota Solo periode 2005-2010. Perlahan kemajuan nampak dirasakan oleh warga
Solo, mulai dari penataan kota, merapikan pedagang kaki lima (PKL), mempopulerkan branding Kota Solo yakni “The Spirit of
Java”, meningkatkan investasi mulai dari perhotelan, restoran, dan pusat
perbelanjaan serta mengajukan Solo sebagai kota-kota warisan dunia. Semua hal
itulah yang dapat menjawab keraguan dari kalangan-kalangan sebelumnya dengan
hasil yang dirasakan. Dengan gaya memimpin yang sederhana dan komunikasi publik
yang apa adanya beliau menjadi walikota yang dicintai oleh warga Solo.
Tahun 2010,
Jokowi kembali mencalonkan sebagai walikota periode kedua. Alhasil, dengan
angka yang mengejutkan dirinya memperoleh suara lebih dari 90 persen dari
masyarkat Solo. Angka ini adalah angka yang fantastis, menjadi rekor perolehan
suara tertinggi untuk kepala daerah di Indonesia. Saat itu, gencar yang namanya
mobil nasional, dalam hal itu ada produksi mobil buatan anak SMK yaitu esemka.
Tak ayal bila Jokowi masih menggunakan mobil dinas bekas pendahulunya dan
berniat menggantinya dengan mobil buatan pelajar. Salah satu hal itulah yang
membuatnya sering diliput oleh media. Semua media baik lokal maupun nasional
tiap hari menampilkan sosok media yang mebuatnya semakin dikenal oleh
masyarakat luas di seluruh Indonesia.
Awal Kiprah di level
atas
Tahun 2012 ada
agenda besar di DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia yaitu pemilihan gubernur.
Kompetisi yang sangat sengit di level kepala daerah karena hampir semua suku,
profesi, akademisi, praktisi, ahli, dan lain sebagainya ada didalamnya. Menjadi
tantangan tersendiri ketika Jokowi akhirnya memutuskannya sebagai calon
gubernur yang kembali diusung oleh PDIP. Kali ini dipasangkan oleh Basuki
Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok. Keduanya mantap berkompetisi padahal ada
lawan berat sebagai incumbent yaitu
Fauzi Bowo. Dengan perjuangan dua putaran akhirnya mampu memenangkan dan
meyakinkan warga Jakarta dengan suara 53,81 persen. Dengan jargon Jakarta Baru
dan gaya blusukan yang khas dengan
mendengar aspirasi langsung dari masyarakat mampu mengipnotis untuk
mendukungnya. Bukan hal yang mudah untuk menyelesaikan multi-complex cases in Jakarta dengan jumlah penduduk yang sudah
tak sesuai dengan luas wilayahnya menyebabkan kondisi Jakarta kian tak
manusiawi. Mulai dari macet yang luar biasa, banjir hampir tiap tahun,
pemukiman kumuh, ketertiban warga Jakarta, dan masalah lainnya.
Saya bukanlah
warga Jakarta tapi saya mengamatinya menjadi masalah yang besar ketika kota
dengan beragam keindahannya masih menyimpan banyak persoalan yang tak enak.
Apalagi dengan status sebagai ibukota negara besar yang cukup terkenal seantero
jagad. Dalam mengambil setiap kebijakan untuk merubah wajah ibukota bukan hanya
masalah administratif saja tapi juga dengan adanya kepentingan politik. Yang
melibatkan banyak kalangan dalam mengambil keputusan, baik elit politik maupun
massa politik. Dengan status sebagai gubernur, Jokowi diharapkan benar-benar
mampu mewujudkan Jakarta Baru. Kiprahnya dalam panggung politik mestinya harus
dimaknai untuk mensejahterakan masyarakat, bukan kepentingan parpol apalagi
dirinya sendiri. Jokowi bagi saya sangat pantas untuk menjadi gubernur, warga
Jakarta telah mempercayakan amanah kepadanya, jadi mohon jangan disia-siakan.
Saya mendukung betul apabila Jokowi tetap mempertahankan posisinya sebagai
gubernur yang telah dirauhnya dengan perjuangan yang luar biasa. Jangan tergoda
untuk maju ke pentas politik nasional (untuk saat ini).
Oleh : GYP
Oleh : GYP
No comments:
Post a Comment