Friday, March 14, 2014

MENIMBANG JOKOWI SEBAGAI RI-1 (PART I)



"Saya hanya bekerja dan bekerja, tak peduli penilaian orang mau jelek, mau gagal, mau berhasil yang penting saya bekerja. ~Jokowi"

Tak dapat dipungkiri, popularitas Joko Widodo atau akrab di sapa Jokowi masih melambung tinggi mengalahkan tokoh-tokoh lain yang ikut meramaikan bursa calon presiden RI 2014. Siapakah Jokowi? Pria kelahiran Surakarta, 21 Juni 1961 saat ini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012-2017. Mengawali karier dari bawah setelah tamat menyelesaikan gelar insinyur Kehutanan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, setelah lulus beliau sempat merantau ke Aceh untuk bekerja di salah satu BUMN. Kemudian kembali lagi ke Solo untuk bekerja di salah satu CV yang bergerak di bidang perkayuan. Setelah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup, pada tahun 1998 dirinya mendirikan perusahaan bisnis di bidang meubel dan dengan kerja kerasnya berhasil untuk mengembangkan bisnisnya untuk dapat mengekspor hasil meubelnya ke luar negeri.

Mengenal Jokowi

Dimulai dari bergabungnya ke dalam Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dengan latar belakang sebagai pengusaha meubel. Pada tahun 2005, Jokowi mencalonkan diri sebagai Walikota Solo, banyak kalangan yang meragukannya untuk memimpin. Namun, dengan bantuan mesin partai dan kendaraan politiknya beliau terpilih sebagai Walikota Solo periode 2005-2010. Perlahan kemajuan nampak dirasakan oleh warga Solo, mulai dari penataan kota, merapikan pedagang kaki lima (PKL), mempopulerkan branding Kota Solo yakni “The Spirit of Java”, meningkatkan investasi mulai dari perhotelan, restoran, dan pusat perbelanjaan serta mengajukan Solo sebagai kota-kota warisan dunia. Semua hal itulah yang dapat menjawab keraguan dari kalangan-kalangan sebelumnya dengan hasil yang dirasakan. Dengan gaya memimpin yang sederhana dan komunikasi publik yang apa adanya beliau menjadi walikota yang dicintai oleh warga Solo.
Tahun 2010, Jokowi kembali mencalonkan sebagai walikota periode kedua. Alhasil, dengan angka yang mengejutkan dirinya memperoleh suara lebih dari 90 persen dari masyarkat Solo. Angka ini adalah angka yang fantastis, menjadi rekor perolehan suara tertinggi untuk kepala daerah di Indonesia. Saat itu, gencar yang namanya mobil nasional, dalam hal itu ada produksi mobil buatan anak SMK yaitu esemka. Tak ayal bila Jokowi masih menggunakan mobil dinas bekas pendahulunya dan berniat menggantinya dengan mobil buatan pelajar. Salah satu hal itulah yang membuatnya sering diliput oleh media. Semua media baik lokal maupun nasional tiap hari menampilkan sosok media yang mebuatnya semakin dikenal oleh masyarakat luas di seluruh Indonesia.

Awal Kiprah di level atas

Tahun 2012 ada agenda besar di DKI Jakarta, ibukota Republik Indonesia yaitu pemilihan gubernur. Kompetisi yang sangat sengit di level kepala daerah karena hampir semua suku, profesi, akademisi, praktisi, ahli, dan lain sebagainya ada didalamnya. Menjadi tantangan tersendiri ketika Jokowi akhirnya memutuskannya sebagai calon gubernur yang kembali diusung oleh PDIP. Kali ini dipasangkan oleh Basuki Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok. Keduanya mantap berkompetisi padahal ada lawan berat sebagai incumbent yaitu Fauzi Bowo. Dengan perjuangan dua putaran akhirnya mampu memenangkan dan meyakinkan warga Jakarta dengan suara 53,81 persen. Dengan jargon Jakarta Baru dan gaya blusukan yang khas dengan mendengar aspirasi langsung dari masyarakat mampu mengipnotis untuk mendukungnya. Bukan hal yang mudah untuk menyelesaikan multi-complex cases in Jakarta dengan jumlah penduduk yang sudah tak sesuai dengan luas wilayahnya menyebabkan kondisi Jakarta kian tak manusiawi. Mulai dari macet yang luar biasa, banjir hampir tiap tahun, pemukiman kumuh, ketertiban warga Jakarta, dan masalah lainnya. 

Saya bukanlah warga Jakarta tapi saya mengamatinya menjadi masalah yang besar ketika kota dengan beragam keindahannya masih menyimpan banyak persoalan yang tak enak. Apalagi dengan status sebagai ibukota negara besar yang cukup terkenal seantero jagad. Dalam mengambil setiap kebijakan untuk merubah wajah ibukota bukan hanya masalah administratif saja tapi juga dengan adanya kepentingan politik. Yang melibatkan banyak kalangan dalam mengambil keputusan, baik elit politik maupun massa politik. Dengan status sebagai gubernur, Jokowi diharapkan benar-benar mampu mewujudkan Jakarta Baru. Kiprahnya dalam panggung politik mestinya harus dimaknai untuk mensejahterakan masyarakat, bukan kepentingan parpol apalagi dirinya sendiri. Jokowi bagi saya sangat pantas untuk menjadi gubernur, warga Jakarta telah mempercayakan amanah kepadanya, jadi mohon jangan disia-siakan. Saya mendukung betul apabila Jokowi tetap mempertahankan posisinya sebagai gubernur yang telah dirauhnya dengan perjuangan yang luar biasa. Jangan tergoda untuk maju ke pentas politik nasional (untuk saat ini).

Oleh : GYP

No comments:

Post a Comment