Tuesday, March 6, 2018

KOMUNIKASI YANG SEUTUHNYA



              Salah satu ilmu tertua di muka bumi adalah ilmu kmunikasi. Sejak lahir kita memiliki naluri dan intuisi untuk bisa berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Berbagai macam bentuk dan gaya komunikasi yang pada intinya untuk membuat mengerti. Seperti halnya anak bayi yang menangis untuk memberi kode kepada ibunya bahwa ia meminta pertolongan kepada ibunya dan masih banyak contoh yang lainnya. Komunikasi itu sebenernya sebuah tindakan yang gampang-gampang sulit dan sulit-sulit gampang. Semua itu tergantung pada situasi, bahasa yang digunakan, dan konteks yang dibicarakan, lebih lanjut dari itu latar belakang komunikasi, latar belang komunikan, dan latar belakang komunikator yang akan saling berhubungan satu sama lain. Orang ahli komunikasi dan pakar komunikasi sekalipun belum tentu mahir berkomunikasi dengan berbagai elemen atau lapisan level masyarakat.
            Dalam cerita para nabi terdahulu, yang paling terkenal mahir berkomunikasi adalah Nabi Sulaeman, beliau mampu berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Beliau tahu persis bagaimana gerak gerik daun di pepohonan, gelagat para jin, arah kemana kumbang akan mencari bunga, dan masih banyak yang lainnya. Keahlian komunikasi oleh berbagai macam makhluk tersebut yang tidak dimiliki oleh siapapun. Seperti halnya dokter yang paham dengan penyakit pasiennya, psikolog yang paham dengan sorot mata, gerak tubuh, dan kerut di kening kita, sebagaimana pelatih mengerti detil bakat dan perkembangan para atletnya, sebagaimana sosiolog yang paham terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat, serta masih banyak contoh yang lainnya. Dalam hal ini, Nabi Sulaiman sangat komplit dalam hal penguasaan komunikasi, baik secara syariat maupun hakikat. Tentu aktivitas berkomunikasi memiliki bermacam-macam bentuk dan metode. Pada dasarnya komunikasi adalah dialog antara komunikator dengan komunikan dengan maksud dan pesan yang saling dipahami. Bisa melalui kode-kode, bahasa verbal, gerak, dan lainnya yang sama-sama disepakati.
            Dalam komunikasi terdapat banyak bahasa yang dapat digunakan: pandangan mata, mimic wajah, gerak tubuh, kode-kode, dan komunikasi sunyi. Secara umum dan luas, kita mengenal berbagai metode-metode dalam penguasaan komunikasi, yaitu: verbal communication, physical communication, dan silent communication. Artinya ada komunikasi verbal, komunikasi yang fisikal, dan komunikasi yang sunyi. Komunikasi verbal maksunya ialah komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal atau yang kata-kata yang keluar dari mulut yang disepakati untuk saling berkomunikasi, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin, Bahasa Arab, dan lain sebagainya. Akan tetapi ada juga komunikasi verbal yang justru tidak menggunakan bahasa baku tapi bisa saling diterima antara komunikan dan komunikator, contohnya orang bule yang sedang berkunjung ke Jogja dan bertanya arah tujuan tempat wisata dengan warga lokal yang pada dasarnya bahasa yang digunakan berbeda tetapi mereka bisa saling memahami.
            Kemudian untuk komunikasi yang fisikal contohnya ialah seorang disabilitas tuna wicara sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya, mereka menggunakan bahasa tubuh, melalui gerakan, kode-kode, dan mimik wajah yang dapat saling dimengerti antar kedua belah pihak. Dan yang terakhir adalah komunikasi sunyi maksudnya disini ialah bahwa komunikasi itu tidak semuanya hanya bisa dilakukan melalui verbal dan gerakan fisik tapi ada bentuk lain yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata atau gerakan tubuh. Contohnya ialah ketika istri atau pacar kita sedang ngambek dan menangis, biasanya dia menggunakan bahasa “diam”, bahasa tersebut dinilai justru sebagai bentuk komunikasi yang efektif. Sesungguhnya dia sedang ingin mengatakan sesuatu dan menyatakan perasaannya kepada kita, justru apabila dengan kata-kata atau gerakan justru perasaan atau pesan tersebut tidak sampai. Kemudian lebih jauh lagi yang dilakukan oleh orang sufi, ahli kebatinan, orang yang sedang bercinta, pakar kasepuhan, atau orang yang sedang bertapa menggunakan bahasa komunikasi dengan sunyi dalam dimensi-dimensi kehidupan mereka.
            Berbicara lebih jauh soal komunikasi, ada banyak sekali contoh-contoh lainnya yang bisa menjadi gambaran antara komuikator dengan komunikan dalam menyampaikan pesannya. Seorang yang ahli public speaking mahir berbicara di depan banyak orang, menguasai berbagai macam teknik berkomunikasi dijamin belum tentu bisa menghadapi atau mengobrol dengan bayi atau anak kecil. Seorang pejabat atau politisi ulung yang ahli berpidato di podium dan berdebat dengan lawan bicaranya, dijamin belum tentu bisa mengkomunikasikan hasilnya langsung kepada rakyat kecil untuk mudah dimengerti mereka. Lalu ada tokoh masyarakat di desa atau LSM yang rajin berkomunikasi dengan korban atau masyarakat kecil belum tentu bisa menyampaikan pesannya kepada pejabat yang ditujukan. Selain itu seorang mahasiswa yang rajin membaca dan senang mendiskusikan materi kuliahnya kepada temannya dijamin belum tentu sanggup untuk menjelaskan maksudnya kepada dosen-dosen yang dianggap killer terhadap nilai. Serta masih banyak contoh-contoh lainnya yang mengindikasi bahwasanya berkomunikasi itu susah-susah gampang. Kadang keliatan susah, tapi kadang keliatan gampang.
            Pada intinya dan yang paling substansial dalam peristiwa komunikasi sesungguhnya bukan “bagaimana kemampuan bahasa yang digunakan”, akan tetapi apakah kedua belah pihak tersebut saling terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau komunikator atau komunikan saling terbuka untuk berdialog, bahasa apapun yang akan digunakan mudah dicari. Tetapi apabila dari awal mereka tertutup untuk berdialog, menggunakan bahasa apapun juga akan salah untuk bisa dimengerti. Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh berbagai macam faktor diantaranya adalah feodalisme, hierarkisme, atau segala macam perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
            Contoh dari feodalisme komunikasi misalnya ketika sang ayah hanya sanggup untuk menasehati dan memberi tahu akan tetapi tidak sanggup untuk dinasehati atau diberitahu. Apapun yang keluar dari perkataannya dianggap paling benar, sedangkan kalo dia diberi tahu semuanya dianggap salah. Lalu ada pula contoh dalam kondisi hierarkisme tata sosial, misalnya yang ada di tubuh birokrasi, perusahaan, dan militer. Seorang pimpinan atau atasan yang gemar menasehati dan memberi tahu kepada bawahannya yang dianggap sebagai kewajiban, akan tetapi sebaliknya dia tidak mau dinasehati atau diberitahu. Kondisi tersebut membuat seseorang menjadi antikritik dan tidak bisa mendengarkan apalagi menerima sesuatu masukan yang dianggapnya sebagai kritikan atau kesan menyalahkannya. Biasanya ia terbiasa memerintah tapi tidak ingin diperintah. Selalu ingin dipuji, tak siap untuk dicerca. Kondisi feodalisme dan hierarkisme komunikasi tersebut nyata ada di lingkup sosial masyarakat sampai saat ini.
               Kesimpulannya adalah untuk bisa menjadi orang yang ahli berkomunikasi tidak harus pintar secara akademik sebagai prasyarat. Tetapi komunikasi itu harus rasional, kontekstual, dan objektif. Apabila tidak rasional dalam berkomunikasi tentu akan mendapatkan debat kusir bukan pesan yang positif. Apabila subjektif, apapun yang dibicarakan oleh lawan bicara akan dianggap salah. Apabila konteks komunikasi yang dibicarakan tidak setara, beda topik, dan lain sebagainya tentu akan mendaptkan kondisi komunikasi yang tidak akan nyambung untuk dimengerti. Peristiwa komunikasi yang tidak rasional, tidak kontekstual, dan tidak objektif tersebut rawan terjadi miskomunikasi. Dimana pangkal atau ujung komunikasi antara komunikator dan komunikan tidak akan bisa bertemu untuk dapat dimengerti.

Jakarta, 6 Maret 2018
Oleh: Gilang Yudha Prakoso

No comments:

Post a Comment