Salah satu ilmu tertua di muka bumi adalah ilmu
kmunikasi. Sejak lahir kita memiliki naluri dan intuisi untuk bisa
berkomunikasi dengan lawan bicara kita. Berbagai macam bentuk dan gaya
komunikasi yang pada intinya untuk membuat mengerti. Seperti halnya anak bayi
yang menangis untuk memberi kode kepada ibunya bahwa ia meminta pertolongan
kepada ibunya dan masih banyak contoh yang lainnya. Komunikasi itu sebenernya
sebuah tindakan yang gampang-gampang sulit dan sulit-sulit gampang. Semua itu
tergantung pada situasi, bahasa yang digunakan, dan konteks yang dibicarakan,
lebih lanjut dari itu latar belakang komunikasi, latar belang komunikan, dan
latar belakang komunikator yang akan saling berhubungan satu sama lain. Orang
ahli komunikasi dan pakar komunikasi sekalipun belum tentu mahir berkomunikasi
dengan berbagai elemen atau lapisan level masyarakat.
Dalam
cerita para nabi terdahulu, yang paling terkenal mahir berkomunikasi adalah
Nabi Sulaeman, beliau mampu berkomunikasi dengan segala macam makhluk. Beliau
tahu persis bagaimana gerak gerik daun di pepohonan, gelagat para jin, arah
kemana kumbang akan mencari bunga, dan masih banyak yang lainnya. Keahlian
komunikasi oleh berbagai macam makhluk tersebut yang tidak dimiliki oleh
siapapun. Seperti halnya dokter yang paham dengan penyakit pasiennya, psikolog
yang paham dengan sorot mata, gerak tubuh, dan kerut di kening kita,
sebagaimana pelatih mengerti detil bakat dan perkembangan para atletnya,
sebagaimana sosiolog yang paham terhadap perilaku dan kebiasaan masyarakat,
serta masih banyak contoh yang lainnya. Dalam hal ini, Nabi Sulaiman sangat
komplit dalam hal penguasaan komunikasi, baik secara syariat maupun hakikat. Tentu
aktivitas berkomunikasi memiliki bermacam-macam bentuk dan metode. Pada
dasarnya komunikasi adalah dialog antara komunikator dengan komunikan dengan
maksud dan pesan yang saling dipahami. Bisa melalui kode-kode, bahasa verbal,
gerak, dan lainnya yang sama-sama disepakati.
Dalam
komunikasi terdapat banyak bahasa yang dapat digunakan: pandangan mata, mimic wajah,
gerak tubuh, kode-kode, dan komunikasi sunyi. Secara umum dan luas, kita
mengenal berbagai metode-metode dalam penguasaan komunikasi, yaitu: verbal communication, physical communication, dan silent communication. Artinya ada
komunikasi verbal, komunikasi yang fisikal, dan komunikasi yang sunyi.
Komunikasi verbal maksunya ialah komunikasi dengan menggunakan bahasa verbal
atau yang kata-kata yang keluar dari mulut yang disepakati untuk saling
berkomunikasi, seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Mandarin,
Bahasa Arab, dan lain sebagainya. Akan tetapi ada juga komunikasi verbal yang
justru tidak menggunakan bahasa baku tapi bisa saling diterima antara komunikan
dan komunikator, contohnya orang bule yang sedang berkunjung ke Jogja dan
bertanya arah tujuan tempat wisata dengan warga lokal yang pada dasarnya bahasa
yang digunakan berbeda tetapi mereka bisa saling memahami.
Kemudian
untuk komunikasi yang fisikal contohnya ialah seorang disabilitas tuna wicara
sedang berkomunikasi dengan lawan bicaranya, mereka menggunakan bahasa tubuh,
melalui gerakan, kode-kode, dan mimik wajah yang dapat saling dimengerti antar
kedua belah pihak. Dan yang terakhir adalah komunikasi sunyi maksudnya disini
ialah bahwa komunikasi itu tidak semuanya hanya bisa dilakukan melalui verbal
dan gerakan fisik tapi ada bentuk lain yang tidak bisa diungkapkan dengan
kata-kata atau gerakan tubuh. Contohnya ialah ketika istri atau pacar kita
sedang ngambek dan menangis, biasanya dia menggunakan bahasa “diam”, bahasa
tersebut dinilai justru sebagai bentuk komunikasi yang efektif. Sesungguhnya
dia sedang ingin mengatakan sesuatu dan menyatakan perasaannya kepada kita,
justru apabila dengan kata-kata atau gerakan justru perasaan atau pesan
tersebut tidak sampai. Kemudian lebih jauh lagi yang dilakukan oleh orang sufi,
ahli kebatinan, orang yang sedang bercinta, pakar kasepuhan, atau orang yang sedang bertapa menggunakan bahasa
komunikasi dengan sunyi dalam dimensi-dimensi kehidupan mereka.
Berbicara
lebih jauh soal komunikasi, ada banyak sekali contoh-contoh lainnya yang bisa
menjadi gambaran antara komuikator dengan komunikan dalam menyampaikan
pesannya. Seorang yang ahli public speaking mahir berbicara di depan banyak
orang, menguasai berbagai macam teknik berkomunikasi dijamin belum tentu bisa
menghadapi atau mengobrol dengan bayi atau anak kecil. Seorang pejabat atau
politisi ulung yang ahli berpidato di podium dan berdebat dengan lawan
bicaranya, dijamin belum tentu bisa mengkomunikasikan hasilnya langsung kepada
rakyat kecil untuk mudah dimengerti mereka. Lalu ada tokoh masyarakat di desa
atau LSM yang rajin berkomunikasi dengan korban atau masyarakat kecil belum
tentu bisa menyampaikan pesannya kepada pejabat yang ditujukan. Selain itu
seorang mahasiswa yang rajin membaca dan senang mendiskusikan materi kuliahnya
kepada temannya dijamin belum tentu sanggup untuk menjelaskan maksudnya kepada
dosen-dosen yang dianggap killer
terhadap nilai. Serta masih banyak contoh-contoh lainnya yang mengindikasi
bahwasanya berkomunikasi itu susah-susah gampang. Kadang keliatan susah, tapi
kadang keliatan gampang.
Pada
intinya dan yang paling substansial dalam peristiwa komunikasi sesungguhnya
bukan “bagaimana kemampuan bahasa yang digunakan”, akan tetapi apakah kedua
belah pihak tersebut saling terbuka atau tidak untuk berkomunikasi. Kalau
komunikator atau komunikan saling terbuka untuk berdialog, bahasa apapun yang
akan digunakan mudah dicari. Tetapi apabila dari awal mereka tertutup untuk
berdialog, menggunakan bahasa apapun juga akan salah untuk bisa dimengerti.
Ketertutupan komunikasi dalam masyarakat kita biasanya disebabkan oleh berbagai
macam faktor diantaranya adalah feodalisme, hierarkisme, atau segala macam
perhubungan sosial yang mendorong sikap apriori.
Contoh
dari feodalisme komunikasi misalnya ketika sang ayah hanya sanggup untuk menasehati
dan memberi tahu akan tetapi tidak sanggup untuk dinasehati atau diberitahu.
Apapun yang keluar dari perkataannya dianggap paling benar, sedangkan kalo dia
diberi tahu semuanya dianggap salah. Lalu ada pula contoh dalam kondisi
hierarkisme tata sosial, misalnya yang ada di tubuh birokrasi, perusahaan, dan
militer. Seorang pimpinan atau atasan yang gemar menasehati dan memberi tahu
kepada bawahannya yang dianggap sebagai kewajiban, akan tetapi sebaliknya dia
tidak mau dinasehati atau diberitahu. Kondisi tersebut membuat seseorang
menjadi antikritik dan tidak bisa mendengarkan apalagi menerima sesuatu masukan
yang dianggapnya sebagai kritikan atau kesan menyalahkannya. Biasanya ia
terbiasa memerintah tapi tidak ingin diperintah. Selalu ingin dipuji, tak siap
untuk dicerca. Kondisi feodalisme dan hierarkisme komunikasi tersebut nyata ada
di lingkup sosial masyarakat sampai saat ini.
Kesimpulannya
adalah untuk bisa menjadi orang yang ahli berkomunikasi tidak harus pintar
secara akademik sebagai prasyarat. Tetapi komunikasi itu harus rasional, kontekstual,
dan objektif. Apabila tidak rasional dalam berkomunikasi tentu akan mendapatkan
debat kusir bukan pesan yang positif. Apabila subjektif, apapun yang
dibicarakan oleh lawan bicara akan dianggap salah. Apabila konteks komunikasi
yang dibicarakan tidak setara, beda topik, dan lain sebagainya tentu akan
mendaptkan kondisi komunikasi yang tidak akan nyambung untuk dimengerti.
Peristiwa komunikasi yang tidak rasional, tidak kontekstual, dan tidak objektif
tersebut rawan terjadi miskomunikasi. Dimana pangkal atau ujung komunikasi
antara komunikator dan komunikan tidak akan bisa bertemu untuk dapat
dimengerti.
Jakarta, 6 Maret 2018
Oleh: Gilang Yudha Prakoso
No comments:
Post a Comment