"Vita non est vita, non reflectitur experiendae. Hidup yang tidak direfleksikan
adalah hidup yang tak layak dijalani" ~Aristoteles
Kadang diatas, terkadang dibawah pula. Pernah berjaya, pernah juga nelangsa. Sering bahagia setengah mati ketika harapannya tercapai, seringkali kecewa juga ketika ekspektasinya meleset dari target atau bahkan gagal sama sekali. Hidup ini perjuangan, perjuangan itu hidup, kawan. Jangan pernah sekalipun menyia-nyiakan hidup yang hanya sekali saja di dunia. Tidak lebih. Kalo hidup hanya sekedar hidup, binatang buas pun juga hidup di hutan belantara sana. Kalo hidup hanya ingin nikmat dan bahagianya saja, rasanya kita tak cukup merasakan yang namanya 'makna hidup'. Beda halnya bila kita merasakan getir, pahit, gagal, menunggu ketidakpastian, ditolak, kecewa, dan lalu kita bisa bangkit lagi dan mengevaluasi kesalahan lalu. Itu bisa dikatakan bahwa sebenernya hidup itu berharga bilamana kita mampu melewati tantangan dan ujian yang diberikan oleh Allah SWT.
Saya jadi teringat kembali, dulu seringkali punya list impian dan target yang ingin dicapai. Mulai dari tahun, usia, sampai apa saja yang harus dipersiapkan. Jangan pernah takut dan ragu untuk menuliskan impian yang tinggi, jangan tanggung-tanggung, karena Allah juga tidak pernah tanggung-tanggung memberikan nikmat yang luar biasa bagi hambanya yang bersyukur dan bersabar. Kalo kita yakin terhadap mimpi-mimpi kita dan tahu bagaimana harus mewujudkannya, inshaAllah suatu saat Tuhan akan menjawabnya. Keep positive thinking kawan! Tapi, biasanya orang punya impian besar karena ada pemicunya, mungkin motivasi, kegagalan sebelumnya, atau masalah-masalah lain yang hanya dirinya dan Tuhanlah yang tahu. Semua orang memiliki pilihan, prioritas, dan misi hidupnya masing-masing, tergantung dari apa yang kita inginkan.
Keluar Dari Zona Nyaman itu Penting
Alangkah indahnya bilamana suatu saat satu per satu impian yang kita harapkan dapat terwujud tuntas. Tapi itu tidak mudah kawan. Hasil akan berbanding lurus dengan proses yang kita jalankan. Bolehlah kita bermimpi tinggi malah harus, tapi kalau usaha dan prosesnya masih dibwah rata-rata orang kebanyakan yatentu sulit terwujud. Keluar dari zona nyaman, mungkin terdengar klise tapi ini sangat penting untuk membantu proses mewujudkan impian. Terkedang kita sudah terlanjur terlena dengan kenikmatan yang kita rasakan sekarang, tapi kan kita belum tentu tahu apa yang akan terjadi esok dan lusa. Nah, oleh karena itu jangan sampai kita terlena dengan kenikmatan sesaat sekarang. Main kesana kesini, ketawa sana sini, pacaran yang berlebihan, atau sudah cukup puas dengan capaian sekarang. Sampai-sampai kita lupa dengan cita-cita dan misi hidup kita. Kelak kita tidak akan hidup untuk dirinya sendiri, ketika sudah berpasangan tentu ada tanggung jawab lebih untuk menafkahinya. Berkhayal futuristis juga sangat baik, kawan.
Sedikit cerita, akhir-akhir ini saya merasa sudah terlena dengan apa yang saya jalani. Sampai lupa dengan impian saya yang lebih esensial, lupa meng-improve diri, lupa memantaskan diri, lupa merefleksikan diri, dan lupa mendekatkan diri kepada Tuhan. Serta pada akhirnya satu persatu masalah datang menghampiri silih berganti. Dengan kondisi psikis dan fisik yang tak siap, alhasil justru menjadi gelisah dan beban yang menghantui. Saya harus bangkit! Bangkit dari masalah yang mendera. Saya harus mau keluar dari zona nyaman sekarang dan meramu kembali mimpi-mimpi yang sempat tertunda. Tidak ada perjuangan yang sia-sia semua akan ada ganjarannya. Tuhan Maha Mengetahui mana saja hambaNya yang bekerja keras mana yang bermalas-malasan. Karena Dia-lah sebaik-baiknya penilai dan paling objektif. So, tunggu apalagi mulai detik ini harus kembali merajut mimpi-mimpi dengan persiapan yang lebih matang.
Fokus pada Misi
Bagaikan bola bekel yang dijatuhkan dari atas menuju lantai lalu akan kembali memantul ke atas dengan jangkauan yang lebih tinggi. Barangkali itu yang sedang saya cari dan pikirkan. Kita tidak akan menemukannya, apabila kita tidak mencarinya. Impian saya kelak ialah lulus S-1 sesuai target, skripsi menjadi buku, lanjut ambil master di University of London, nonton Arsenal di Emirates Stadium, keliling Eropa, kerja di KBRI, dan selalu ada pendamping (lover) yang selalu menemani dalam proses perjalanan meraih misi tersebut. Kita tidak akan tahu apakah akan terwujud semua ato tidak, yang jelas saya selalu ingat 3 pepatah Arab:
Man Jadda Wajada (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
Man sabhara zhafira (Siapa yang bersabar akan beruntung)
Man saara ala darbi washala(siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)
Kembali fokus pada impian harus dibuktikan dengan kerja keras diatas rata-rata orang lain dan doa yang terus menerus serta pasrah kepada Tuhan kita. Ini bukan sekedar ambisi pribadi saja tapi lebih ke arah pembuktian bahwasanya hidup itu perjuangan yang tak henti-hentinya sampai kita benar-benar bisa mendapatkannya. Jangan hanyut dan tenggelam pada keputus asaan. Sikap optimis harus terus dipupuk. Jangan merengek pada keadaan, tapi bersikukuhlah kemana tujuan kita akan menyambut. Domainnya adalah waktu. Selalu ada Tuhan untuk hati bersandar dan jiwa raga kita bertumpu. Dan segala impian yang telah digoreskan itu harus direbut dengan perjuangan diatas rata-rata. Teguhkan niat, sholat, dan sabar. Tuhan Maha Melihat. Ayo bangkit! Bismillah :)
Oleh: Gilang Yudha Prakoso
No comments:
Post a Comment