Never stop walking, never stop believing, and the most important thing is never stop learning from travelling. Because...
“Travel
brings power and love back into your life.” ~Rumi
Barangkali orang sering menyebut life is a journey, tapi kali
ini saya mengambil judul journey is a life. Perjalanan berarti bergerak
dinamis, dan ketika bergerak itu menandakan bahwa makhluk biotik yang bernama
manusia ini hidup. Bagi sebagian orang mungkin sebuah perjalanan adalah hal
yang biasa, ketika seseorang melakukan aktivitas yang menjadi rutinitasnya dari
rumah ke kantor dan sebagainya itu juga sebuah perjalanan. Namun bagi saya,
perjalanan lebih dari itu. Perjalanan adalah jiwa. Dan perjalanan adalah
energi. Setiap perjalanan akan meninggalkan kenangan yang akan menuntun kita
kembali pada perjalanan tersebut. Inilah yang saya yakini, bahwa perjalanan
akan membawa pengaruh pada perjalanan proses hidup saya.
Bumi Allah itu sangatlah luas. Jutaan kilometer persegi
antara luas daratan dan lautannya. Antara utara dan selatan, barat dan timur
seperti tak ada batasnya bahkan mungkin kita tak akan menemukan batasnya. Kita
sering melupakan anugerah dan kuasaNya. Mengabaikan keindahan ciptaanNya. Dan
enggan mencari tahu misteri yang ada di langit dan di bumi. Karena sungguh
Allah menciptakan segala sesuatu supaya hambaNya berfikir. Kalau kita mau
menggali lebih dalam sebenarnya perjalanan bukan sekedar fisik kita saja yang
berpindah dari tempat A ke tempat B dan seterusnya, tapi juga hati dan jiwa
kita yang merasakan. Ketenangan batin, asupan energi postif, inspirasi baru,
bahkan kegelisahan dan kesedihan acap kali kita temui dalam setiap perjalanan.
Terinspirasi dari permainya alam ibu pertiwi, kemajemukan
sosial dan budaya, keberagaman suku yang mendiami negeri Indonesia membuat hati
saya terpanggiluntuk menyusurinya. Melihat seluk-beluk apapun yang ada,
meskipun seringkali saya melihatnya kontras dan diferensial. Tapi apapun itu,
seperti halnya cinta saya selalu berusaha untuk memahami, menerima, menghargai,
dan berupaya menjaga apa yang telah dianugerahkan oleh Tuhan kepada Indonesia
secara khusus. Bukan maksud riya’ atau sombong, setiap liburan semester atau
kesempatan hari libur lainnya saya selalu beusaha untuk travelling. Baik itu solo
travelling ato sama teman-teman terdekat. Kita bisa merasakan untuk berbaur
dengan masyarakat yang heterogen dan menyatu dengan indahnya alam. Mengagumi
sama hanya dengan mesyukuri.
Suatu hari saya sedang melihat-lihat buku di Toko Buku Gunung
Agung Paragon, Semarang. Terlintas ada buku menarik yang mengisahkan tentang kumpulan
perjalanan para traveller. Sempat terbayang saya juga ingin menuliskan setiap
perjalanan, penjelajahan, atau blusukan yang saya alami. Tujuannya untuk
berbagi pengalaman saja bukan untuk pamer, siapa tahu ada yang punya hobi sama
dengan saya kita bisa bertukar informasi. Dan kelak ketika sudah banyak tempat
yang saya kunjungi dan banyak cerita menarik dalam perjalanan saya, inshaAllah
akan saya jadikan buku. Ini cita-cita saya. Meraih kebahagiaan dan mensyukuri
nikmat akan terus kita rasakan kalau kita selalu merasa cukup. Setiap momen
yang kita lewati selalu meninggalkan jejak, cerita menarik untuk bekal masa
depan. Sampai nanti, sampai saya tak sanggup lagi akan terus menjadi traveller. Semoga Allah me-ridloi
harapan saya ini.
Ada testimoni menarik dari buku ‘The Journey’s’ ini:
Batas akan tetap menjadi batas, saat tak ada
Yang benar-benar berani menyeberanginya.
Seperti halnya kita menamai utara sebagai utara,
Karena tak ada yang
pernah bertanya kenapa.
Jarak akan tetap menjadi jarak, saat tak ada
Yang memulai langkah untuk menyudahinya.
Kita hanya menduga-duga, sebelah langit mana
Yang berwarna lebih merah.
Dan, perjalanan akan menjadi perjalanan,
Saat tak ada yang sudi menceritakan
Kisah yang menyertanya.
Maka, temuilah, lewati batas, tuntaskan jarak.
Ceritakan setidaknya kepada diri sendiri,
Tentang jawaban yang kita temui.
Salam travelling!
Oleh: GYP

No comments:
Post a Comment