Friday, April 11, 2014

Apresiasi Pemilih pada Pemilu 2014

Hari pencoblosan pemilihan umum legislatif 2014 sudah berlalu. Sistem proporsional terbuka yang digunakanpun sudah lumayan dipahami oleh masyarakat meskipun tak sepenuhnya. Gambar partai atau nama kaderkah yang akan dipilih masih ada kebimbangan di raut wajah pemilih, terutama pemilih muda. Dengan empat surat suara yang akan di coblos, mulai dari DPR RI, DPD RI, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Hasil penghitungan suara nasionalpun cepat diketahui di media dengan cara quick count, meskipun ada juga beberapa petinggi partai tidak mau percaya dan mau menerima hasil penghitungan suara cepat tersebut. Karena KPU belum mengeluarkan hasil resmi perolehan suara peserta pemilu di tingkat nasioanl. Dari berbagai dinamika pemilu ini yang saya apresiasi adalah penyelenggara pemilunya yaitu KPU dan Bawaslu, baik level pusat maupun daerah. Karena, secara umum penyelenggaraan pemilu tahun ini terbilang AMAN dan TERTIB, bukan DAMAI karena terkadang memiliki konotasi yang negatif dari makna kata tersebut.

Dari mulai sosialisasinya kepada berbagai khalayak calon pemilih, penetapan waktu kampanye, pengeluarkan peraturan KPU, sampai penyelenggaraan pada hari H nya. Kebetulan saya termasuk mahasiswa yang ikut membantu KPU dalam men-sosialisasikan dalam hal mengingatkan waktu pemilihan dan mengajak supaya tidak golput. Banyak respons positif, banyak juga respons yang negatif dari apa yang saya dan temen-temen BEM Unpad lakukan. Mulai cibiran soal aksi moal golput, pencerdasan pemilu, form A5 dan sebagainya, tapi hal itu justru baik karena ada respons dari masyarakat. Dalam hal kampanye pun kami juga menyuarakan supaya tidak ada lagi yang namanya politik uang, kampanye hitam, dsb. Sebelumnya kastrat melalu LISMnya juga bikin survei mengenai tingkat partisipasi politik mahasiswa se-Unpad, hasilnya masih cukup tinggi. Lebih dari itu kemenlu BEM juga telah memfasilitasi pemilih rantau supaya tetap bisa memilih di tempat domisili sekarang. Caranya dengan mengisi form A5 yang disediakan oleh PPK, kemudian DPT asal diverifikasi untuk kemudian dipindahkan tempat pemilihannya. Kurang lebih ada sekitar 800 mahasiswa yang menggunakan cara ini untuk penasaran memilih. Dan yang tidak diambil form A5 nya sekita 200an, karena mudharatnya tinggi dan berpotensi difitnah form A5 tersebut kami bakar. Satu hal, respons mahasiswa dalam partisipasi politik masih tinggi.

Cerita Pemilih Pemula
Seumur-umur semenjak saya memiliki hak pilih sama sekali belum pernah menggunakannya, bukan karena apatis tapi terkendala oleh akses. Berkaca dari apa yang telah saya lakukan dalam men-sosialisasikan pemilu tak ingin dicap menelan ludahnya sendiri, saya berinsiatif untuk mendaftarkan form A5 di PPK satu jam menjelang pemilihan berakhir. Terkesan seperti dilempar-lemparkan oleh PPS sebelumnya tapi saya nikmati sebagai proses karena saya sekalian mengamati bagaimana kinerja panitia pemilunya. Apakah ada koordinasi yang baik ato tidak? Itu saja. Akhirnya form A5 pun didapat dan dapet TPS yang masih menyediakan surat suara.

Cerita sebelumnya adalah berhubung mahasiswa Unpad yang diberi form A5 mendapatkan ada di 4 desa akhirnya saya dan teman saya sebut saja mawar mencoba mencari lokasi-lokasi yang akan jadi TPS mahasiswa Unpad. Kebetulan saya menuju ke lokasi Desa Ciseumpur (pertama kali denger) karena penasaran lantas saya mencari dan banyak bertanya kepada warga. Kurang lebih satu setengah jam akhirnya saya menemukan lokasi TPS yang akan digunakan teman saya, tak terbayang lokasinya terpencil dan harus melewati gang kecil dibawah kaki Gunung Geulis. Masalah akses inilah yang menyebabkan mahasiswa enggan memilih meskipun form A5 sudah di tangan. Atas dasar niat yang tulus dan kecintaan saya pada negeri ini saya dan teman saya memutuskan untuk mencari dan harus menemukan lokasi TPS tersebut. Setiap TPS maksimal hanya boleh menerima 20 DPT tambahan, maka dari itu meskipun di desa yang sama lokasi TPS yang mahasiswa pilih berbeda-beda.



Lanjut, berhubung saya dan teman sebagai relawan pengawas pemilu dari bawaslu, sekalian menanyakan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pemilu, salah satunya dengan PPS. Baik di desa terpencil dan perumahan besar semuanya sudah cukup baik, meskipun saksi-saksi yang ditulis dalam BAP ada tapi ketika kami mengamati langsung hanya ada satu dua orang saja, bahkan tidak ada. Namun, hal yang menarik adalah ketika saya ke TPS 10 Desa Cikeuruh, ada sekelompok tim sukses Caleg bersiaga di depan TPS, dengan maksud memanfaatkan mahasiswa yang masih bingung mereka menghasut pemilih di depan TPS langsung untuk memilih caleg yang ditujukannya, ironisnya meskipun disitu ada PPS, polisi, dan Hansip namun mereka semua diam seolah tak melihat. Karena caleg tersebut merupakan warga situ, jadi mereka enggan juga untuk menegurnya. Tapi ini asumsi saya, bahwa ketika ada indikasi-indikasi yang membujuk dengan alat peraga atau gerakan ketika pelaksanaan pemilu itu termasuk pelanggaran. Setelah itu, saya wawancarai langsung caleg tersebut yang merupakan kader dari partai "P" dan meminta nomor kontaknya. Bayangkan disele-sela kelengahan panitia, mereka masih sempat-sempatnya menjanjikan apa yang dia lakukan bila terpilih nanti, padahal sekarang dia posisinya juga sudah menjadi anggota dewan di DPRD kenapa tidak dilakukan hal yang demikian ketika dia menjabat. MAAF MAHASISWA TIDAK BODOH BUNG DAN JAUH LEBIH RASIONAL DARI ANDA!!

Inilah gambar caleg dan timsesnya yang menghasut pemilih pemula

Akhir cerita, saya sempat mewancarai beberapa pemilih pemula yang menggunakan hak pilihnya. Patut saya apresisasi meskipun dalam hal mendapatkan form A5 alur dan prosesnya lumayan ribet, ditambah dengan harus mencari lokasi TPS yang akan dituju tapi mereka masih mau melaksanakan tanggung jawabnya. Jawaban mereka bermacam-macam, ada yang masih penasaran, ada yang ingin mencoba karena jarang-jarang, ada yang masih percaya pada partai, dan sebagainya. Yang jelas mereka-merekalah anak muda yang masih peduli pada negaranya dan masih percaya bahwa dengan partisipasi aktif dengan cara konvensional datang ke tPS untuk memilih caleg-caleg by accident, yang katanya di legislatif nanti mereka masih baru mau belajar. Apa kata dunia? Yah begitulah cerita dan dinamika yang ada di negara demokrasi yang katanya terbesar ketiga di dunia.

Hari itu usai sudah petualangan saya dalam mengamati sekaligus meneliti proses penyelenggaraan Pemilu 2014, mulai dari pemilih pemula, relawan pengawas pemilu sampai jurnalis dadakan! hehehe :)

Oleh : GYP

No comments:

Post a Comment